Trump Ganggu Inggris Kembalikan Wilayah Jajahan, Sebut Niatan 'Konyol'
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik keras kesepakatan Inggris pengembalian Kepulauan Chagos ke Mauritius dalam pertemuan tatap muka pertamanya dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Andy Burnham. Komentar pedas ini menjadi pukulan telak bagi pemimpin baru Inggris tersebut di tengah perjumpaan yang sebenarnya berlangsung hangat.
Mengutip Japan Times, Kamis (24/09/2026), meskipun Trump sempat memuji Burnham sebagai pebisnis alami yang bisa diajak bekerja sama, kritiknya menyoroti tantangan berat yang dihadapi pemimpin Partai Buruh itu dalam menjalin hubungan yang mulus dengan presiden AS.
"Saya tidak mendukungnya. Saya pikir itu mengerikan. Itu adalah kesepakatan yang mengerikan," ungkap Trump kepada wartawan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada hari Selasa.
"Seseorang memiliki kepemilikan yang tidak pernah muncul sebelumnya setelah berpuluh-puluh tahun dan berabad-abad. Saya pikir itu konyol. Tidak, kami sedang membicarakan hal itu, dan ini secara strategis sangat penting."
Selepas pertemuan itu, Trump menyebut Burnham akan meninjau ulang masalah tersebut, yang dijawab dengan kata "ya" oleh sang PM. Trump sebelumnya telah menarik dukungannya terhadap rencana Inggris tersebut awal tahun ini, tepat setelah London sempat menolak membantu AS ketika melancarkan serangan terhadap Iran.
Pertemuan pada hari Selasa tersebut menjadi ujian diplomatik terbesar bagi Burnham, yang hingga musim panas ini masih menjabat sebagai Walikota Greater Manchester dan minim pengalaman kebijakan luar negeri. Trump sebelumnya bahkan sempat meremehkan pemimpin baru Inggris tersebut dengan menyebutnya sekadar "walikota sebuah kota" dan "sangat liberal".
Burnham sendiri merupakan perdana menteri Inggris keenam dalam satu dekade terakhir, sekaligus pemimpin keempat yang dikenal Trump selama dua masa jabatannya di Gedung Putih. Burnham menggulingkan mantan PM Keir Starmer dari kepemimpinan Partai Buruh pada Juli lalu setelah rentetan skandal dan hasil pemilu yang buruk menekan popularitas Starmer ke rekor terendah usai dua tahun memimpin.
Meskipun Trump dan Burnham telah berbicara setidaknya dua kali melalui sambungan telepon, keduanya belum pernah bertemu langsung secara tatap muka. Burnham sebelumnya percaya diri bahwa pesona pribadinya dapat memikat sang presiden Partai Republik tersebut, sembari menegaskan akan mencari titik temu.
Selain terkait Chagos, Burnham membeberkan bahwa mereka telah membahas kelanjutan perang di Ukraina dan Iran, serta status Kepulauan Falkland. Isu Falkland kembali memanas akibat retorika Washington yang semakin simpatik terhadap klaim Argentina atas kepulauan tersebut. Inggris dan Argentina sempat terlibat perang berdarah pada 1982 yang dimenangkan Inggris, sebelum penduduk pulau memilih secara mutlak untuk tetap menjadi wilayah seberang laut Inggris dalam referendum 2013.
(tps/tps)