Trump Mendadak Mau Beli Pulau Strategis Inggris, China Ikut Terseret
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi untuk membeli Kepulauan Chagos dari Mauritius. Langkah tersebut muncul di tengah ketidakpastian rencana Inggris menyerahkan kedaulatan wilayah strategis itu kepada Mauritius, terutama karena keberadaan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia.
Menurut laporan Telegraph, proposal tersebut akan memungkinkan Washington mengamankan kendali jangka panjang atas Diego Garcia, yang selama ini menjadi salah satu aset militer paling penting bagi AS dan Inggris. Namun, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Sumber yang dikutip Telegraph menyebutkan bahwa skema yang dibahas akan membuat AS bernegosiasi langsung dengan Mauritius untuk membeli wilayah tersebut.
"Kami selalu jelas bahwa kami tidak akan melanjutkan tanpa dukungan AS," kata seorang sumber pemerintah Inggris mengenai rencana penyerahan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius, seperti dikutip The Guardian, Senin (8/6/2026).
Laporan itu menyebutkan bahwa rencana pembelian tersebut merupakan salah satu dari sejumlah opsi yang sedang dipertimbangkan pemerintahan Trump. Usulan terbaru disebut diajukan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada Trump, meski belum menjadi pilihan utama.
Sejumlah pejabat AS disebut khawatir jika Kepulauan Chagos sepenuhnya berada di bawah kendali Mauritius. Kekhawatiran itu muncul karena hubungan Mauritius dengan China dinilai dapat membuka peluang aktivitas intelijen atau spionase yang berpotensi mengancam keamanan pangkalan Diego Garcia.
Sementara itu, kelompok pengungsi Chagos yang berkunjung ke Inggris pekan lalu mendesak pemerintah Inggris segera menyelesaikan sengketa status kepulauan tersebut. Mereka menilai kepentingan masyarakat asli Chagos kerap terabaikan dalam tarik-menarik politik.
Perdebatan mengenai masa depan Kepulauan Chagos juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Diego Garcia yang berada di tengah Samudra Hindia berjarak sekitar 3.800 kilometer dari Iran dan memiliki fasilitas militer yang mampu mendukung operasi rudal jarak jauh AS.
Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari, pangkalan tersebut menjadi salah satu titik strategis operasi militer Barat. Iran bahkan dilaporkan telah melancarkan sejumlah serangan terhadap fasilitas gabungan itu, meski sebagian besar berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan AS.
Pada Maret lalu, Inggris juga memberikan izin kepada AS untuk meluncurkan rudal dari Diego Garcia guna menyerang peluncur rudal Iran. Keputusan itu menuai kritik dari Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahwa keputusan tersebut dapat menyeret Inggris lebih jauh ke dalam konflik. Dalam unggahan di media sosial, Araghchi menuduh London "membahayakan nyawa warga Inggris dengan mengizinkan pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran".
Pemerintah Inggris menegaskan bahwa mempertahankan operasional Diego Garcia merupakan kepentingan strategis utama bagi London dan Washington. Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan pangkalan tersebut telah menjadi pilar keamanan bersama kedua negara selama hampir 60 tahun.
"Diego Garcia adalah aset militer strategis utama bagi Inggris dan AS yang telah melindungi keamanan bersama kami selama hampir 60 tahun," kata juru bicara tersebut.
Menurut pemerintah Inggris, perjanjian dengan Mauritius dirancang untuk memastikan kendali operasional dan keamanan jangka panjang pangkalan tetap terjaga serta mencegah pihak-pihak yang dianggap sebagai ancaman memperoleh pijakan di lokasi yang sangat strategis tersebut.
(tfa/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]