Trump Marah Besar ke Inggris, Ancam Dukung Argentina Kuasai Malvinas
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) secara terbuka mengancam akan meninjau ulang dukungannya terhadap kendali Inggris atas Kepulauan Falkland atau yang dikenal dengan nama Malvinas dalam Bahasa Spanyol. Langkah berani ini merupakan puncak kemarahan dan manuver tekanan Washington agar London bersedia meningkatkan anggaran militer mereka secara substansial.
Mengutip Russia Today, Minggu (30/08/2026), ancaman AS ini muncul di tengah meningkatnya perselisihan antara kedua sekutu lama tersebut yang bersumber dari isu kebijakan pertahanan, kebuntuan anggaran, hingga sikap Inggris dalam konflik melawan Iran.
AS mempertimbangkan untuk menentang klaim kedaulatan Inggris jika London terus enggan menaikkan anggaran pertahanannya. Inggris dipastikan akan menerima perhatian khusus dalam evaluasi Pentagon yang tengah meninjau kredibilitas anggota NATO menuju target anggaran baru, di mana Washington dipastikan tidak akan mengesampingkan langkah apa pun demi memaksa sekutunya menanggung lebih banyak beban pertahanan Eropa.
Seorang pejabat senior AS membeberkan bahwa diskusi mengenai masalah ini berlangsung sangat terbuka. Meski rencana investasi pertahanan baru Inggris dilihat sebagai langkah ke arah yang benar, pejabat tersebut menegaskan bahwa hal itu belum cukup.
"Mengingat skala tantangan yang dihadapi kita dan sekutu kita, kita membutuhkan sekutu seperti Inggris untuk melangkah maju dengan cara yang mendasar dan besar. Untungnya, beberapa sekutu sudah melakukannya. Kami sangat mendorong Inggris untuk melakukan hal yang sama," tegasnya.
Manuver tekanan AS terkait pulau kekuasaan Inggris ini pertama kali muncul pada bulan April melalui laporan email internal Pentagon. Email tersebut merencanakan tinjauan dukungan diplomatik untuk aset kekaisaran Eropa sebagai sarana untuk menghukum pemerintah NATO yang dianggap Washington gagal mendukung kampanye militernya melawan Iran. Presiden Argentina, Javier Milei, yang juga merupakan sekutu dekat Donald Trump, bereaksi sangat optimis terhadap peluang tersebut.
"Kami membuat kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya," ungkapnya.
Sebagai informasi latar belakang, Inggris dan Argentina telah berselisih mengenai kedaulatan Falkland selama hampir 200 tahun. Konflik ini mencapai puncaknya ketika junta militer Argentina memerintahkan invasi pada tahun 1982.
Perdana Menteri Inggris kala itu, Margaret Thatcher, langsung mengerahkan satuan tugas angkatan laut dan berhasil merebutnya kembali dalam 74 hari pertempuran sengit. AS yang mendukung Inggris selama konflik tersebut selama ini mengakui administrasi de facto Inggris, namun secara hati-hati tidak mengambil posisi terkait klaim kedaulatan yang bersaing tersebut.
Sementara itu, sebagian besar anggota NATO sejatinya telah sepakat untuk mengalokasikan 5% dari PDB untuk keamanan pada tahun 2035.Namun para pejabat Inggris justru mendorong ambang batas 3% pada tahun 2030.
Rencana investasi pertahanan baru Inggris yang dirilis Juni lalu hanya membiarkan pengeluaran pertahanan inti berada di level 2,7% dari PDB hingga tahun 2029-2030. London sendiri saat ini bahkan masih kesulitan mencari tambahan 4,7 miliar poundsterling (Rp 111,51 triliun) untuk anggaran pertahanan akibat besarnya tekanan fiskal.
Kemarahan Presiden AS Donald Trump juga sempat memuncak saat Inggris awalnya menolak permintaan penggunaan pangkalan militernya untuk menyerang Iran karena kekhawatiran aspek hukum. London pada akhirnya mengubah sikapnya hanya setelah Teheran membalas dengan menyerang langsung aset-aset militer milik Inggris.
Selain itu, London dan Washington juga tengah terjebak perundingan alot terkait nasib Kepulauan Chagos di Samudra Hindia, yang selama ini menjadi markas militer gabungan keduanya. Inggris pada tahun 2025 sempat setuju untuk menyerahkan kedaulatannya kepada Mauritius sambil tetap mempertahankan pangkalan di bawah sewa 99 tahun. Namun, London terpaksa menunda rencana tersebut pada bulan April usai Donald mengecam kesepakatan itu sebagai sebuah kesalahan besar.