Bukan Soal Teknologi, Batu Bara Jadi Bensin Akan Terbentur Keekonomian
Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah mengembangkan bensin berbahan baku batu bara dinilai memungkinkan untuk direalisasikan. Namun demikian, keekonomian proyek yang membutuhkan investasi dan biaya operasional besar menjadi tantangan tersendiri.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mengatakan, teknologi untuk mengubah batu bara menjadi bensin atau gasoline sudah tersedia dan telah diterapkan di sejumlah negara.
Ia mencontohkan, Afrika Selatan menjadi salah satu negara yang telah mengembangkan teknologi tersebut melalui perusahaan Sasol yang memiliki fasilitas Coal to Liquid (CTL).
"Teknologi untuk hal ini juga sudah ada. Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang telah memiliki teknologi ini dimana Perusahaan mereka yang Bernama SASOL sudah memiliki fasilitas pabrik untuk proses Coal to Liquid," kata Widhy kepada CNBC Indonesia, Rabu (23/9/2026).
Menurut Sudirman, proses pengolahan batu bara menjadi bensin pada dasarnya dimulai dengan mengubah batu bara menjadi synthetic gas (syngas). Batu bara direaksikan dengan oksigen dan uap air pada suhu serta tekanan tinggi hingga menghasilkan gas sintesis berupa campuran karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H2).
Syngas kemudian diproses lebih lanjut menjadi methanol, yang selanjutnya dapat diolah menjadi produk turunan seperti Dimethyl Ether (DME) maupun gasoline. Namun, Sudirman menegaskan persoalan terbesar bukan terletak pada kesiapan teknologi, melainkan biaya investasi dan biaya produksi.
"Permasalahan utama nya bukan mengenai teknologi, namun lebih kepada keekonomian," kata dia.
Ia memandang, tingginya kebutuhan investasi dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan swasta untuk masuk ke proyek pengolahan batu bara menjadi bensin.
Sudirman mencontohkan proyek pengolahan batu bara menjadi DME yang sebelumnya direncanakan melibatkan perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products. Perusahaan tersebut kemudian mundur dari rencana proyek, salah satunya karena pertimbangan keekonomian.
"Terbukti beberapa waktu lalu Air-Product dari Amerika Serikat, mundur dan enggan melanjutkan rencana utk pembuatan DME dari batubara ini, salah satunya karena alasan keekonomian," katanya.
Adapun, jika pemerintah serius mengembangkan bensin dari batu bara, Sudirman menilai proyek tersebut pada tahap awal dapat melibatkan BPI Danantara bersama BUMN di sektor batu bara dan energi.
Danantara, kata dia, dapat bekerja sama dengan BUMN produsen batu bara seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) serta BUMN pengelola usaha perminyakan seperti Pertamina.
"Pada saat nya kelak di kemudian hari, jika proyek pemerintah ini berjalan dengan sukses dan feasible secara keekonomian, bukan tidak mungkin akan diikuti juga oleh pihak2 lain (swasta) untuk menanamkan investasinya di proyek ini," ujarnya.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]