MARKET DATA

Potensi Besar! 2 Daerah Ini Jadi Basis Perubahan Batu Bara Jadi Bensin

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
30 September 2026 11:20
Sejumlah perahu tongkang batu bara melintas di Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (24/7/2024). Sungai Mahakam berfungsi sebagai jalur pengangkutan batu bara. Setiap hari di sungai ini dipadati tongkang yang membawa muatan batu bar
Foto: Sejumlah perahu tongkang batu bara melintas di Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (24/7/2024). Sungai Mahakam berfungsi sebagai jalur pengangkutan batu bara. Setiap hari di sungai ini dipadati tongkang yang membawa muatan batu bara. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto mendorong pengembangan hilirisasi batu bara untuk menghasilkan metanol yang dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah telah mendorong investasi pengolahan batu bara menjadi metanol di sejumlah wilayah yang memiliki potensi sumber daya batu bara cukup besar. Adapun, salah satu pengembangan tersebut berada di Kalimantan Timur.

"Ini saya yang melakukan groundbreaking untuk kegiatan itu. Jadi ini ada beberapa yang di Kalimantan Timur itu sudah mulai. Yang kita dorong kegiatannya itu ada juga yang di Sumatra Selatan, ada daerah-daerah yang potensi batu baranya cukup besar. Itu terutama kita menggunakan batu bara kalori rendah. Nah itu ada kerjasama teknologi," kata Yuliot ditemui di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, dikutip Rabu (30/9/2026).

Lebih lanjut, Yuliot pun menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan dari proses hilirisasi tersebut bukan langsung berupa bensin. Tahap yang saat ini didorong pemerintah adalah mengolah batu bara menjadi metanol.

"Jadi metanol itu kan bisa digunakan untuk sebagai pencampuran bahan bakar minyak," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mengatakan bahwa secara teknologi, pengolahan batu bara menjadi bensin atau gasoline sangat memungkinkan.

"Secara umum, mengubah batu bara menjadi bensin (gasoline) sangat memungkinkan. Teknologi untuk hal ini juga sudah ada," kata dia kepada CNBC Indonesia, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, salah satu negara yang telah memiliki teknologi tersebut adalah Afrika Selatan melalui perusahaan Sasol. Perusahaan tersebut telah mengoperasikan fasilitas Coal to Liquid (CTL) untuk mengolah batu bara menjadi produk cair.

Sudirman menjelaskan, proses pengolahan batu bara menjadi bensin diawali dengan mengubah batu bara menjadi synthetic gas (syngas). Batu bara direaksikan dengan oksigen dan uap air pada suhu serta tekanan tinggi hingga menghasilkan gas sintesis berupa karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H2).

Syngas kemudian diproses lebih lanjut menjadi methanol, yang selanjutnya dapat diolah menjadi produk turunan seperti Dimethyl Ether (DME) maupun gasoline. Namun, Sudirman menegaskan persoalan terbesar bukan terletak pada kesiapan teknologi, melainkan biaya investasi dan biaya produksi.

"Permasalahan utama nya bukan mengenai teknologi, namun lebih kepada keekonomian," kata dia.

Ia memandang, tingginya kebutuhan investasi dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan swasta untuk masuk ke proyek pengolahan batu bara menjadi bensin.

Sudirman mencontohkan proyek pengolahan batu bara menjadi DME yang sebelumnya direncanakan melibatkan perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products. Perusahaan tersebut kemudian mundur dari rencana proyek, salah satunya karena pertimbangan keekonomian.

"Terbukti beberapa waktu lalu Air-Product dari Amerika Serikat, mundur dan enggan melanjutkan rencana untuk pembuatan DME dari batubara ini, salah satunya karena alasan keekonomian," katanya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Batu Bara RI Bakal Diolah Buat Jadi Campuran Bensin!


Most Popular
Features