Internasional

Awas Perang Baru! 7 Milisi Bersenjata Bersatu, Siap Serang Pemerintah

tps, CNBC Indonesia
Senin, 21/09/2026 07:40 WIB
Foto: Tentara Ethiopia (via Facebook AFRICA IS HOME)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tujuh kelompok bersenjata di Ethiopia dilaporkan telah membentuk aliansi baru untuk melawan dan menggulingkan pemerintah federal. Eskalasi ini memicu ketakutan global akan kembalinya perang saudara berdarah yang sebelumnya telah menewaskan sekitar 600.000 jiwa di negara tersebut.

Mengutip Arab News, Senin (21/09/2026), Uni Afrika mencatat bahwa baik pemerintah maupun pihak Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) telah mengumpulkan pasukan besar-besaran di sepanjang perbatasan negara bagian utara dalam beberapa bulan terakhir. Selain pasukan Tigray, aliansi ini juga mencakup milisi nasionalis Amhara Fano, Tentara Pembebasan Oromo (OLA) yang aktif beroperasi di wilayah terpadat Ethiopia, serta empat kelompok bersenjata lainnya.

"Kami baru saja membentuk aliansi, kami berkolaborasi dengan beberapa kelompok dan tujuan kami adalah menyingkirkan rezim dan memfasilitasi pemerintahan transisi," tegas Wakil Presiden TPLF, Amanuel Assefa.


Hingga saat ini, pihak otoritas federal belum memberikan tanggapan resmi terkait pembentukan aliansi pemberontak tersebut.

Meski memiliki kekuatan gabungan, Kjetil Tronvoll, seorang spesialis regional di Oslo New University College di Norwegia, meragukan upaya aliansi tersebut untuk menumbangkan pemerintah federal. Pasalnya, rezim saat ini diyakini memiliki keunggulan persenjataan berupa armada pesawat tak berawak (drone) tempur yang melimpah.

"Ini adalah perang pengorbanan bagi para pemberontak. Saya tidak yakin mereka akan mampu mempertahankan perang seperti itu," pungkas Tronvoll.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa aliansi ini baru bisa menjadi ancaman nyata yang merepotkan jika mereka mampu beroperasi secara terpadu. Pasalnya, akan ada banyak front yang bakal dihadapi pemerintah.

"Jika mereka berkoordinasi sebagai komando militer, itu mungkin akan membuat perbedaan, ini adalah potensi empat hingga lima front yang harus dihadapi pemerintah, itu mungkin menjadi tantangan," paparnya.

Di sisi lain, Tronvoll juga mempertanyakan apa yang akan terjadi pasca-pengambilalihan kekuasaan, mengingat kelompok-kelompok bersenjata dalam aliansi tersebut pada dasarnya memiliki akar ideologi yang sangat berbeda.

Sebagai catatan, Ethiopia telah lama dirongrong oleh konflik bersenjata yang berlarut-larut di dua wilayah terpadatnya, yakni Oromia dan Amhara. Pasukan federal diketahui telah saling serang dengan kelompok OLA sejak tahun 2018, dan terus bertempur tanpa henti melawan milisi Fano sejak 2023 lalu.


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus Pengusaha EBT Gaet Pembiayaan - Amankan Lahan Proyek PLTS