Terungkap Israel Buat Perang Baru, Tarik Negara Arab ke Perang Saudara
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani menuduh Israel secara diam-diam mendukung milisi bersenjata yang beroperasi di luar kendali negara di kota selatan Suwayda. Israel dituding memfasilitasi senjata dan pasokan uang kepada kelompok tersebut demi menjalankan sebuah agenda kekacauan yang berpotensi memicu konflik internal alias perang saudara di kawasan itu.
Mengutip Anadolu Agency, Rabu (14/10/2026), kecaman keras tersebut dilontarkan oleh al-Shaibani dalam sebuah konferensi pers gabungan di Damaskus bersama Direktur Jenderal Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) Sabrina Dallafior, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Arab Suriah (SANA). Pemerintah Suriah menuding Israel terus berusaha mengacaukan negaranya sejak rezim Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024 silam, yakni melalui serangkaian serangan brutal terhadap infrastruktur dan pendudukan wilayah tambahan.
Sang menteri juga menuduh pasukan Israel telah melakukan pemindahan paksa terhadap warga Suriah serta melakukan penangkapan secara sewenang-wenang. Nasib puluhan tahanan Suriah hingga kini bahkan masih belum diketahui secara pasti rimbanya.
"Komunitas internasional harus segera menghentikan berbagai tindakan Israel yang mengancam akan menjerumuskan kawasan ini ke dalam kekacauan," tegasnya.
Al-Shaibani turut mendesak agar semua pihak segera kembali mematuhi perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974 dan mengizinkan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengimplementasikannya. Lebih lanjut, ia menuntut Israel untuk terlibat serius dalam negosiasi yang disponsori Amerika Serikat (AS) yang menurutnya telah berlangsung selama satu setengah tahun terakhir.
"Kami berkomitmen penuh untuk mencapai kesepakatan yang menghormati keamanan dan kedaulatan Suriah," ungkap al-Shaibani.
Sebagai informasi historis, Israel telah menduduki sebagian besar Dataran Tinggi Golan milik Suriah sejak tahun 1967. Menyusul jatuhnya rezim Assad, militer Israel langsung bergerak merebut zona penyangga demiliterisasi dan secara agresif memperluas kehadiran mereka di wilayah selatan Suriah. Padahal, perjanjian pemisahan tahun 1974 secara tegas telah menetapkan zona penyangga yang diawasi langsung oleh PBB di antara pasukan Suriah dan Israel.
Guna mendinginkan situasi, Suriah dan Israel sebenarnya telah menggelar beberapa putaran pembicaraan yang dimediasi oleh AS untuk mengurangi ketegangan, menghentikan operasi militer Israel, dan mencapai kesepakatan keamanan bersama. Pada bulan Agustus lalu, delegasi Suriah dan Israel bahkan telah bertemu di Yordania di bawah mediasi AS guna membahas langkah-langkah penghentian serangan, penangkapan, dan operasi militer Israel, serta mendesak penarikan mundur pasukan Israel ke posisi semula sebelum Desember 2024.