Negara Chaos Usai BBM Naik Gila-gilaan, Pemerintah Langsung Balik Arah
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Suriah memutuskan menurunkan harga solar untuk pemanas, pertanian, dan sektor industri beberapa hari setelah kenaikan harga bahan bakar memicu gelombang demonstrasi terbesar sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad.
Dilansir Reuters, Jumat (18/9/2026), Menteri Energi Suriah Mohammed al-Bashir mengatakan kebijakan tersebut menjadi langkah pemerintah untuk meredakan tekanan setelah kenaikan harga bahan bakar pada akhir pekan lalu memicu aksi protes di berbagai wilayah. Massa membakar ban, memblokade jalan, dan menuntut kenaikan harga dibatalkan.
Berdasarkan perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 90% penduduk Suriah hidup di bawah garis kemiskinan.
Bashir mengatakan pemerintah akan menerapkan tiga harga solar, yakni 115, 150, dan 175 pound Suriah per liter. Besaran harga akan ditentukan berdasarkan spesifikasi bahan bakar serta sektor yang menggunakannya.
Keputusan tersebut diambil setelah Bashir bertemu dengan Presiden Ahmed al-Sharaa pada Rabu malam untuk membahas krisis bahan bakar yang tengah dihadapi negara tersebut.
Pemerintah sebelumnya menaikkan harga solar standar sebesar 40% pada Sabtu, dari 125 menjadi 175 pound Suriah per liter. Pada saat yang sama, harga bensin melonjak sekitar 26%-28%, sementara harga gas untuk rumah tangga dan industri naik sekitar 9%.
Bashir menjelaskan solar yang diproduksi kilang dalam negeri akan dijual dengan harga 115 pound per liter. Harga khusus itu berlaku untuk kebutuhan pemanas, pertanian, serta pengguna lain yang memenuhi kriteria.
Sementara itu, jenis solar kedua yang diperoleh dengan bantuan apa yang disebut Bashir sebagai "negara-negara sahabat" akan dijual seharga 150 pound per liter. Solar jenis ini diperuntukkan bagi sektor produktif dan jasa serta kendaraan atau mesin berat.
Adapun solar standar tetap dijual dengan harga 175 pound per liter. Pemerintah juga tidak mengubah harga bensin dan gas.
Bashir mengatakan pemerintah masih menjual solar standar di bawah biaya produksinya. Menurut dia, biaya tersebut mencapai 206 pound per liter. Namun, pemerintah belum menjelaskan berapa besar anggaran yang harus dikeluarkan untuk subsidi tersebut maupun berapa lama kebijakan itu akan dipertahankan.
Selain kebijakan harga, pemerintah juga berencana menghidupkan kembali sejumlah kilang minyak listrik berukuran kecil yang dikenal di Suriah sebagai "burners". Kilang-kilang tersebut secara keseluruhan memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah hingga 35.000 barel per hari (bpd).
Pengelolaan kilang akan berada di bawah Syrian Petroleum Company (SPC).
CEO SPC Youssef Qablawi mengatakan perusahaan tengah menyiapkan rencana pelaksanaan untuk mengoperasikan kembali fasilitas tersebut. Bahan bakar yang dihasilkan nantinya akan disalurkan melalui stasiun pengisian yang telah ditentukan.
Pengumuman penurunan harga solar itu disampaikan pada hari yang sama ketika Bashir seharusnya menghadapi sidang parlemen terkait keputusan kenaikan harga bahan bakar.
Namun, parlemen pada Rabu sepakat menunda sidang tersebut hingga Minggu atas permintaan Kementerian Energi. Pemerintah meminta waktu tambahan untuk mempersiapkan diri setelah anggota parlemen memperluas agenda sidang, dari semula hanya membahas bahan bakar menjadi mencakup minyak, listrik, air, dan pertambangan.
Bashir sebelumnya mengatakan penutupan sementara kilang Baniyas untuk menjalani perawatan besar telah membuat Suriah makin bergantung pada impor bahan bakar yang lebih mahal. Setelah pekerjaan selesai, kapasitas pengolahan kilang tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 130.000 barel per hari.
Adapun tekanan harga energi di Suriah telah meningkat tajam sejak awal tahun. Sejak Februari, sebelum perang Iran mendorong harga energi global melonjak, harga solar di Suriah telah lebih dari dua kali lipat. Dalam periode yang sama, harga bensin oktan 95 meningkat sekitar 86%.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik sekitar 44% dalam rentang waktu tersebut.
Â
(luc/sef) [Gambas:Video CNBC]