MARKET DATA
Internasional

Tony Fernandes Buka Suara Keuangan AirAsia Berdarah-darah

sef,  CNBC Indonesia
18 September 2026 15:45
CEO Grup AirAsia, Tony Fernandes berbicara pada konferensi pers di Sydney pada 12 Maret 2015. (AFP/PETER PARKS)
Foto: CEO Grup AirAsia, Tony Fernandes (AFP/PETER PARKS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu pendiri AirAsia, Tony Fernandes, buka suara soal kondisi keuangan maskapai berbiaya rendah itu. Hal ini terjadi usai pemberitaan bahwa keuangan maskapai murah itu diawasi pemerintah Malaysia, di mana Malaysia Airlines dan Batik Air diminta mengambil alih pangsa pasar domestik AirAsia.

Mengutip Reuters Jumat (18/9/2026), ia mengatakan tantangan yang dihadapi maskapai berbiaya hemat tersebut akibat lonjakan biaya bahan bakar pesawat "jauh lebih ringan" dibandingkan tantangan selama pandemi COVID-19. Ia berusaha meyakinkan investor mengenai kesehatan keuangan maskapai.

Dalam sebuah pernyataan pers di media, Fernandes juga menyatakan bahwa AirAsia memiliki likuiditas yang kuat dan piawai dalam mengelola arus kas. Ia menambahkan bahwa krisis saat ini sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik dan kenaikan harga bahan bakar sementara permintaan perjalanan tetap tinggi.

Ia mengakui bahwa kuartal kedua (Q2) merupakan masa tersulit bagi maskapai yang menguasai sekitar 60% pasar domestik Malaysia tersebut. Namun memprediksi kondisi akan membaik seiring langkah AirAsia menyesuaikan tarif tiket untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.

Fernandes mengatakan bahwa tingkat keterisian kursi (load factor) grup, yang mengukur seberapa efektif maskapai mengisi kursi yang tersediaan, sudah mencapai 80% pada kuartal ketiga (Q3). Pihaknya yakin akan melihat adanya pemesanan yang kuat untuk kuartal keempat (Q4).

Di kesempatan yang sama, Fernandes juga menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan 100 pesawat milik AirAsia di negara tersebut dalam waktu singkat. Ia pun optimis terhadap operasional di Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Perlu diketahui, liabilitas lancar AirAsia tercatat sebesar 18,4 miliar ringgit (sekitar RP 80,04 triliun) per 30 Juni. Saldo kas dan bank sebesar 954 juta ringgit (Rp4,148 triliun).

Maskapai ini terdampak oleh lonjakan biaya bahan bakar pesawat yang dipicu oleh konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Di mana harga bahan bakar melonjak 66% pada Q2 dibandingkan kuartal sebelumnya, mencapai rata-rata US$183 per barel (Rp3,22 juta per barel).

Kenaikan biaya bahan bakar pesawat dan kerugian kurs mata uang asing yang cukup besar, yakni 331 juta ringgit (Rp 1,43 triliun). AirAsia mencatat kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit (Rp3,599 triliun) untuk Q2 yang berakhir pada 30 Juni.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article AirAsia Berdarah-darah, Malaysia Siapkan Skenario Darurat


Most Popular
Features