Prabowo: Dalam 7 Tahun Kelas Menengah RI Turun, Orang Miskin Bertambah

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 18/09/2026 09:10 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto dalam dialog bersama jurnalis senior dan pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Minggu (6/9/2026). (Dok. Tim Media Prabowo Subianto)

Jakarta, CNBC Indonesia-Presiden Prabowo Subianto menunjukkan bukti Indonesia salah urus selama ini. Salah satunya terlihat pada angka kemiskinan yang terus meningkat, sementara dikatakan ekonomi selalu mampu tumbuh tinggi.

"7 tahun belakangan ini kita pertumbuhannya 5% tiap tahun. Berarti kan kita tumbuhnya 35%. Ternyata setelah 35% tumbuh, masa orang miskin tambah? Iya kan? Penduduk miskin dan rawan miskin ya," kata Prabowo dalam dialog bersama para jurnalis senior dan pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Minggu (6/9/2026), yang disiarkan CNBC Indonesia, Rabu (16/9/2026).


Peningkatan kemiskinan dipicu oleh penurunan kelas menengah Indonesia. "Kelas menengah kok turun,? Berarti there's something wrong with our system. Ini sumbernya pusat data Bank Dunia. Ya, ini Bank Dunia nih. Jadi untuk itu ya kita harus lihat dong. Kalau ada penyakit, masa kita diam? Ya kita harus cari sumbernya apa, kita perbaiki. Kan begitu," jelasnya.

Menurut Prabowo, setiap aksi pasti ada risiko yang harus ditanggung. Ini merupakan tugas dirinya sebagai Presiden yang dipilih rakyat melalui proses demokrasi panjang.

"Ini bukan soal berani tidak berani, ini kewajiban. Saya kan disumpah untuk menegakkan Undang-Undang Dasar," tegasnya.

Langkah besar yang diambil Prabowo salah satunya dengan menutup celah kekayaan Indonesia dari para perampok, yaitu dengan pengentasan praktik underinvoicing.

"Dan data ini kan keluar setelah saya masuk jadi presiden, dan ini data dari PBB. Jadi di dalam negeri bisa pat-guli-pat, ya. Bohong pengiriman, ya kan. Mungkin Bea Cukai disogok, lembaga ini disogok, bla bla bla bla, bisa lah. Di negara penerima barang kita kan nggak bisa," paparnya.

"Jadi berkali-kali kita laporan kita mengirim 50.000 ton batu bara, di negara situ 'Oh enggak, kita terima 100.000.' Catatannya ada, datanya ada semua di sini. Ya. Jadi ini bukan soal berani, saya harus. Saya nggak ada pilihan," imbuhnya.

Menurutnya, jika ini tidak dibereskan maka Indonesia akan terus memburuk ke depan. "Saya udah kumpulin semua pembantu saya, saya bilang: 'Hei, ini kalau kita biarkan ini, negara kita dalam kondisi yang tidak akan pernah sehat, tidak akan pernah makmur. Yang miskin tambah miskin," pungkasnya.


(mij/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Prabowo Soal Beda Pandangan Lembaga Rating Melihat Ekonomi RI