MARKET DATA
Internasional

Krisis Minyak Dunia di Depan Mata, Ini Bukti-Bukti Barunya

tfa,  CNBC Indonesia
16 September 2026 17:40
10 Negara dengan Konsumsi Minyak Mentah Terbesar di Dunia, AS Terboros
Foto: Minyak Dunia (Infografis/Ilham)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Selasa (15/9/2026) setelah gangguan terhadap ekspor Arab Saudi dan pembatalan sejumlah pengiriman minyak mentah ke Eropa. Kenaikan harga juga dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global setelah serangkaian serangan menyasar infrastruktur energi di sejumlah negara produsen minyak.

Melansir Reuters, Rabu (16/9/2026), harga minyak Brent ditutup naik US$3,07 atau 2,9% menjadi US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melonjak US$4,44 atau 4,38% menjadi US$105,83 per barel.

Kedua kontrak minyak tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.

Kenaikan WTI yang lebih besar dibandingkan Brent terjadi setelah sumber industri pelayaran mengatakan pemuatan minyak mentah di terminal Yanbu, Arab Saudi, dihentikan. Riyadh juga dilaporkan membatalkan sejumlah kargo minyak mentah untuk pelanggan di Eropa yang dijadwalkan dikirim pada akhir September.

Gangguan tersebut menjadi perhatian pasar karena Yanbu merupakan salah satu jalur penting bagi ekspor minyak Arab Saudi, terutama setelah konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan di kawasan tersebut membuat Arab Saudi semakin mengandalkan East-West Pipeline, pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang mengalirkan minyak dari wilayah timur negara itu menuju Yanbu di pesisir Laut Merah.

Namun, jalur ekspor Saudi kini menghadapi tekanan tambahan setelah serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap infrastruktur minyak Saudi pada Jumat.

Gangguan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai berapa lama ekspor Arab Saudi dapat kembali normal.

"Para pedagang telah membeli kontrak berjangka WTI dengan asumsi bahwa gangguan pada ekspor Arab Saudi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan," kata Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong kilang-kilang Eropa beralih menggunakan minyak mentah dari Amerika Serikat.

Ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi juga dapat memengaruhi ekspektasi investor mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik.

"Serangan baru oleh kelompok Houthi yang menargetkan Arab Saudi mungkin memengaruhi ekspektasi investor pasar minyak mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik," ujarnya.

Pasokan Libya Ikut Terganggu

Tekanan terhadap pasokan minyak global juga datang dari Libya. National Oil Corporation (NOC) menyatakan operasi di tiga ladang minyak dihentikan setelah anggota Petroleum Facilities Guard menutup katup pada pipa ekspor Hamada-Zawiya.

NOC memperingatkan dapat memberlakukan force majeure jika penutupan tersebut berlanjut. Kondisi itu berpotensi mengganggu produksi dari ladang minyak lainnya.

Sementara itu, kondisi di Arab Saudi juga menjadi perhatian karena gangguan pada East-West Pipeline dapat membatasi kemampuan Riyadh mengalirkan minyak menuju terminal ekspor di Laut Merah.

Goldman Sachs memperkirakan waktu perbaikan pipa tersebut dapat berkisar dari beberapa hari hingga delapan minggu. Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan aliran minyak melalui pipa vital tersebut seharusnya dapat kembali dalam beberapa hari.

Perbedaan perkiraan tersebut membuat pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai durasi gangguan pasokan Arab Saudi.

Di saat yang sama, serangan Rusia dan Ukraina terhadap fasilitas energi masing-masing turut menambah tekanan terhadap pasokan bahan bakar.

Rangkaian gangguan tersebut membuat pasar minyak menghadapi risiko pasokan yang semakin besar, terutama ketika konflik di Timur Tengah masih mengancam jalur perdagangan energi utama.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Menggila-Minyak Bisa Kiamat: Usai Hormuz, Laut Ini dalam Bahaya


Most Popular
Features