Siaga Harga Minyak Meledak, Houthi Akan Kenakan Tarif Lewat Laut Merah
Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi di Yaman tengah mempertimbangkan pengenaan biaya bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah. Hal ini dilakukan sepekan setelah mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Rencana tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap kelancaran rantai pasok energi global dan berpotensi mendorong lonjakan harga minyak. Laut tersebut merupakan pintu 10% minyak global dan 13% LNG.
"Houthi akan berupaya menguasai akses di Laut Merah dan mereka akan mencoba memungut biaya dari kapal-kapal yang melintas jika mereka berhasil melakukannya," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, Afrah al-Zouba, kepada Reuters, Kamis (30/7/2026)
Menurut sejumlah sumber regional yang mengetahui pembahasan tersebut, Houthi memang sedang menyusun mekanisme untuk menarik biaya dari sebagian besar kapal yang melintasi Bab el-Mandeb. Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian mengenai waktu penerapan kebijakan tersebut.Â
Sumber Reuters mengungkapkan, sejumlah pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Juli lalu, turut membahas rencana ini dengan pejabat Iran. Dua pejabat regional yang mendapat informasi dari Teheran mengatakan tujuan kebijakan itu adalah menormalkan praktik pungutan di jalur pelayaran internasional sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat (AS).
Namun, dalam skema yang dibahas, kapal-kapal milik China akan dibebaskan dari pungutan. Reuters melaporkan China telah melakukan komunikasi langsung dengan Houthi agar kapal tankernya dapat melintasi Laut Merah bagian selatan tanpa menjadi sasaran serangan.Â
Seorang pejabat Arab mengatakan Iran akan membantu Houthi membentuk otoritas yang nantinya mengatur penarikan biaya kapal. Namun, dua diplomat Barat menilai langkah tersebut hampir pasti akan menghadapi penolakan keras dari negara-negara Teluk maupun Eropa, meski kemampuan angkatan laut internasional dalam mengamankan jalur pelayaran tersebut masih terbatas.
Jika Bab el-Mandeb terganggu, Arab Saudi akan kehilangan jalur alternatif penting selain Selat Hormuz untuk mengirimkan minyak ke pasar global. Kondisi itu berpotensi memperketat pasokan minyak dunia dan mendorong kenaikan harga energi, terutama di tengah belum pulihnya aktivitas pelayaran di Laut Merah sejak serangan Houthi dimulai pada November 2023.
Dalam sepekan terakhir, setidaknya satu kapal tanker milik Arab Saudi dilaporkan diserang di dekat pelabuhan Jizan, selatan Arab Saudi, dan Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Laporan Panel Ahli PBB pada 2024 juga menyebut Houthi diduga pernah menarik biaya dari agen pelayaran sebagai imbalan atas jaminan keamanan, meski informasi itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Nilai pungutan tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$180 juta (sekitar Rp3,24 triliun per bulan/kurs Rp18.000 per US$). Selain itu, pelayaran menuju Asia melalui Bab el-Mandeb rata-rata hanya memerlukan 16 hari, jauh lebih cepat dibandingkan sekitar 50 hari jika kapal harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan (Afsel).