MARKET DATA
Internasional

Bukan Hormuz! Iran Bisa Tutup Selat Ini, Harga Minyak Bakal "Meledak"

luc,  CNBC Indonesia
15 July 2026 06:11
Ledakan terjadi di dek kapal tanker minyak berbendera Yunani Sounion di Laut Merah, dalam gambar selebaran yang dirilis pada 29 Agustus 2024. (Houthi Military Media/Handout via REUTERS)
Foto: Ledakan terjadi di dek kapal tanker minyak berbendera Yunani Sounion di Laut Merah, dalam gambar selebaran yang dirilis pada 29 Agustus 2024. (via REUTERS/Houthi Military Media)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memasuki babak yang jauh lebih berbahaya. Setelah berhasil mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, Iran kini memberi sinyal siap memainkan "kartu" paling berisiko dengan memanfaatkan sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, untuk menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, dua jalur pelayaran energi terpenting dunia dapat lumpuh secara bersamaan. Para analis memperingatkan kondisi itu berpotensi mengguncang perdagangan global dan mendorong harga minyak melonjak drastis.

Mengutip laporan Reuters, Rabu (15/7/2026), ketika serangan AS ke wilayah Iran makin intensif dan serangan Houthi meningkat secara bersamaan, Teheran dinilai tengah memperluas cakupan konflik guna meningkatkan tekanan terhadap Washington. Strategi tersebut dilakukan dengan mengancam jalur perdagangan dan pasokan energi global, tidak hanya di Teluk Persia tetapi juga di Laut Merah.

Iran sebelumnya telah menunjukkan kemampuan aset strategis terpentingnya dengan mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Kini, negara itu dinilai siap membuka titik tekanan kedua di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi lintasan ekspor minyak Arab Saudi serta sebagian besar perdagangan internasional.

Mohammed al-Farah, anggota biro politik Houthi, menuding Washington mendorong Arab Saudi menyerang Yaman dan menyebut tindakan tersebut tidak akan menguntungkan Amerika Serikat.

"Jika situasi saat ini makin memburuk, Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan ditutup dalam sebuah aliansi operasional. Harga minyak kemudian akan melonjak hingga US$200 per barel dalam guncangan yang mengerikan," katanya.

Iran Dinilai Siap Naikkan Eskalasi

Sejumlah analis menilai apabila Selat Hormuz merupakan senjata strategis utama Iran, maka Bab el-Mandeb menjadi cadangan kekuatan terakhir yang dimiliki Teheran.

Pakar Timur Tengah Fawaz Gerges mengatakan Iran ingin menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa mereka mampu mengancam kedua jalur pelayaran tersebut secara bersamaan.

Menurutnya, langkah tersebut mengubah konflik yang semula bersifat bilateral menjadi ancaman langsung terhadap jalur laut yang menopang perdagangan energi dunia.

"Iran bersedia menempuh segala cara," kata Gerges kepada Reuters.

"Sekarang (Teheran) meningkatkan eskalasi baik di sekitar maupun di wilayah yang lebih luas. Pesannya adalah bukan hanya Hormuz, tetapi Bab el-Mandeb juga berada dalam risiko."

Ancaman "Mission Creep"

Para analis memperingatkan bahaya terbesar bukan semata-mata pecahnya perang total dalam waktu dekat, melainkan terjadinya "mission creep", yaitu situasi ketika kedua pihak secara perlahan terus meningkatkan eskalasi tanpa secara langsung memasuki perang terbuka.

Dengan konflik yang kini meluas dari Teluk Persia hingga Laut Merah, ancaman terhadap perdagangan internasional dan pasokan energi diperkirakan akan semakin besar.

Tekanan tersebut dinilai dapat memaksa Washington maupun Teheran kembali ke meja perundingan sebelum dua jalur minyak terpenting dunia berubah menjadi medan utama konflik.

Dennis Ross, mantan negosiator perdamaian AS untuk Timur Tengah, mengatakan tujuan Washington adalah mengubah perhitungan strategis Iran.

"Persoalannya adalah bagaimana mengubah kalkulasi Iran sehingga mereka siap kembali berbicara, tetapi bukan sekadar berbicara, melainkan benar-benar menyusun sebuah pengaturan yang dapat diterima," ujar Ross.

Adapun kelompok Houthi sebelumnya telah membuktikan kemampuannya mengganggu perdagangan global melalui Bab el-Mandeb.

Setelah perang Gaza meletus pada Oktober 2023, kelompok yang didukung Iran itu melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah. Mereka menyatakan sasaran serangan adalah kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel sebagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina.

Serangan tersebut memaksa perusahaan pelayaran dunia mengalihkan rute kapal mengitari Afrika bagian selatan sehingga biaya logistik melonjak tajam.

Kondisi itu juga memicu serangan udara AS dan Inggris serta pembentukan misi angkatan laut multinasional guna melindungi pelayaran internasional.

Dosen senior King's College London Andreas Krieg menyebut ancaman terbaru Houthi sebagai "opsi nuklir lainnya" bagi Iran setelah Selat Hormuz.

Menurutnya, kartu tersebut kemungkinan hanya akan dimainkan apabila Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyimpulkan bahwa perang terbuka sudah tidak dapat dihindari lagi.

Namun ia mengingatkan apabila Washington meningkatkan serangan terhadap infrastruktur vital Iran, Teheran dapat merespons dengan memanfaatkan sekutunya di Yaman untuk menutup Bab el-Mandeb sehingga memperburuk guncangan ekonomi yang sebelumnya telah dipicu oleh krisis di Selat Hormuz.

Negara Teluk Pilih Diplomasi

Ketua Gulf Research Center yang berbasis di Arab Saudi, Abdulaziz Sager, mengatakan negara-negara Teluk semakin meyakini bahwa ruang diplomasi dengan Iran mulai menyempit meskipun mereka memahami biaya konflik yang lebih luas akan sangat besar.

"Baik Iran yang menang maupun Iran yang kalah sama-sama membawa konsekuensi bagi kawasan," ujar Sager.

"Banyak negara Teluk mungkin menganggap biaya dari skenario terakhir lebih dapat diterima apabila hal itu menghasilkan lingkungan keamanan kawasan yang lebih stabil."

Sager menilai kelompok Houthi masih memiliki kemampuan mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, tetapi kecil kemungkinan mereka meningkatkan eskalasi tanpa arahan langsung dari Teheran.

Menurutnya, setiap upaya Houthi mengancam jalur pelayaran internasional berpotensi memicu respons militer yang lebih luas dari AS beserta sekutunya untuk secara signifikan melemahkan kemampuan kelompok tersebut.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Klaim Bakal Kuasai Selat Hormuz, Semua Kapal Diminta Bayar 20%


Most Popular
Features