MARKET DATA

Harga Minyak Naik 10% dalam 2 Hari, Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
14 July 2026 09:25
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)
Foto: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan Selasa (14/7/2026) pagi, memperpanjang reli tajam yang sudah terjadi sejak awal pekan. Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 08.30 WIB, harga minyak Brent berada di US$84,19 per barel, naik 1,07% dibanding penutupan sebelumnya. Sementara minyak mentah acuan Amerika Serikat (WTI) menguat 1,55% ke US$79,35 per barel.

Kenaikan ini melanjutkan lonjakan pada Senin. Brent telah melesat dari US$76,01 per barel pada 10 Juli menjadi US$84,19 per barel pagi ini atau naik sekitar 10,8% hanya dalam dua hari perdagangan. WTI bahkan melonjak sekitar 11,1% pada periode yang sama.

Reli tersebut membawa harga minyak ke level tertinggi dalam sekitar satu bulan. Melansir dari Reuters, pasar kembali membangun premi risiko setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran. Presiden Donald Trump mengatakan Washington mengaktifkan lagi blokade tersebut dan meminta negara-negara yang mendapat perlindungan di Selat Hormuz ikut menanggung biayanya.

Di sisi lain, Iran meningkatkan respons militernya. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal tanker miliknya terkena rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz yang berada di perairan Oman. Serangan itu menewaskan satu awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya.

Ketegangan tidak berhenti di laut. Komando Pusat AS menyatakan telah memasuki malam ketiga berturut-turut melakukan serangan ke Iran. Sementara kantor berita semi-resmi YJC melaporkan sedikitnya tujuh ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas dan dua ledakan lain terjadi di Pulau Kish.

Analis Kepala Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan eskalasi terbaru telah menambah premi risiko di pasar energi. Menurutnya, blokade AS terhadap Iran dan respons militer Teheran membuat prospek pasokan minyak menjadi jauh lebih sulit diprediksi, meski Selat Hormuz belum ditutup sepenuhnya.

Risiko geopolitik semakin luas setelah kelompok Houthi di Yaman meluncurkan rudal ke Arab Saudi. Serangan itu dilakukan setelah Houthi menuduh Riyadh membombardir sebuah bandara yang mereka kuasai.

Manajer portofolio Gabelli Funds Simon Wong memperingatkan, apabila serangan Houthi meluas hingga mengganggu distribusi produk minyak Arab Saudi melalui Laut Merah, ketidakpastian terhadap arus pasokan minyak dari Timur Tengah akan meningkat.

Selain faktor geopolitik, pasar mulai mengantisipasi pengetatan pasokan di Amerika Serikat. Survei awal Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu. Di saat yang sama, persediaan bensin dan produk distilat diperkirakan meningkat. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan karena dapat memberikan gambaran terbaru mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak di ekonomi terbesar dunia.

CNBC Indonesia

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Minyak Menguat, Pasar Masih Dibayangi Konflik AS-Iran


Most Popular
Features