Siaga Kiamat Minyak di Asia, 'Penutupan' Laut Merah Sudah Makan Korban
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Blokade Laut Merah, imbas ketegangan Arab Saudi dan Houthi Yaman, sudah memakan korban. Perusahaan-perusahaan kilang minyak Asia kini mulai mencari rute alternatif untuk mengangkut minyak mentah dari pelabuhan Laut Merah milik Arab Saudi melalui Terusan Suez, bahkan sampai mengelilingi Benua Afrika.
Langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk antisipasi setelah kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Pengalihan rute ini menjadi dinamika terbaru lalu lintas perdagangan minyak global, di tengah perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran yang masih terus terjadi di Teluk.
"Kondisi tersebut mendorong kilang-kilang mencari sumber pasokan alternatif maupun menggunakan jalur pengiriman yang berbeda," tulis Reuters, dikutip Rabu (22/7/2026).
"Dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah pada Selasa setelah muncul ancaman dari Houthi. Pada saat yang sama, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz juga kembali menurun pada awal pekan ini," tambah laman itu.
Sebenarnya, para analis dan pengamat industri telah memperingatkan bahwa pengiriman ke arah barat menuju Mesir dari pelabuhan Yanbu milik Arab Saudi di Laut Merah kini harus menembus Terusan Suez lalu memutar Tanjung Harapan di Afrika. Hal tersebut bakal memakan waktu tambahan hingga empat minggu.
Jalur memutar ini dipastikan bakal melipatgandakan biaya pengangkutan (freight) serta konsumsi bahan bakar kapal. Dalam rute normal kapal-kapal dari Yanbu biasanya langsung mengarah ke timur menuju Laut Arab.
Salah satunya kapal berbendera Liberia, Rodos, yang memuat minyak mentah di Yanbu untuk dikirim ke pantai barat India. Dari data LSEG dan Kpler Selasa, kapal  itu terpantau berbalik mengarah ke barat dan memberi sinyal menuju Terusan Suez.
Sementara itu, dilaporkan pula bagaimana perusahaan kilang asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai Oilbank, kini tengah mencari kapal tanker minyak raksasa (very large crude carrier/VLCC) untuk memuat minyak di Yanbu. Pihak Hyundai membuka opsi penggunaan Terusan Suez serta jalur pipa SUMED (Suez-Mediterranean Pipeline) yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania di Mesir, untuk membawa minyak tersebut menuju Negeri Ginseng.
Sebenarnya VLCC yang terisi penuh tidak dapat melewati Terusan Suez. Karena keterbatasan kedalaman kanal. Oleh karena itu, operator kapal biasanya memindahkan sebagian muatan minyak ke pipa SUMED di sisi Laut Merah Mesir sebelum memasuki kanal. Setelah kapal melewati Terusan Suez dengan muatan yang lebih ringan, minyak tersebut kembali dimuat di sisi Laut Mediterania.
Menurut sumber pelayaran, penyewa kapal dapat memilih menggunakan kombinasi pipa SUMED dan Terusan Suez sesuai kebutuhan, terutama jika Selat Bab el-Mandeb yang menjadi pintu masuk selatan Laut Merah, benar-benar diblokade. Perhitungan biaya tambahan akibat perubahan rute akan dilakukan kemudian. Terusan Suez dan pipa SUMED selama ini merupakan jalur utama pengiriman minyak dari Laut Merah menuju Eropa.
"Perubahan perilaku oleh kapal tanker memberi tahu kita bahwa mereka menganggap ancaman tersebut secara serius," kata Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith.
"Gangguan dari Houthi ini datang di waktu yang sangat krusial bagi Arab Saudi. Pasalnya, volume minyak mentah dan produk olahan Saudi yang melintasi Selat Bab el-Mandeb baru saja mencatatkan rekor tertinggi pada bulan lalu dengan menembus lebih dari 4 juta barel per hari," tambahnya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]