MARKET DATA

RI Sulit Garap "Harta Karun" Langka, Negara Lain Kunci Teknologinya

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
14 September 2026 14:35
Logam Tanah Jarang
Foto: Logam Tanah Jarang

Jakarta, CNBC Indonesia - Berbagai negara saat ini berupaya mengamankan teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ) seiring rumitnya proses pemisahan 17 unsur di dalamnya. Badan Industri Mineral (BIM) mengidentifikasi rumitnya pemisahan tersebut sebagai faktor utama ketatnya penguasaan teknologi di beberapa negara.

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menjelaskan bahwa ke-17 unsur LTJ berada dalam satu golongan tabel periodik yang sama, sehingga sulit dipisahkan. Meskipun Indonesia tercatat memiliki potensi "harta karun" langka ini, namun sulitnya adopsi teknologi masih menjadi tantangan tersendiri.

"Dan di sini kemudian menjadi salah satu pin points ya, di mana beberapa negara berusaha untuk mengunci teknologi-teknologi yang telah mereka kembangkan," ungkapnya dalam acara 36 th Dirgahayu Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), di Jiexpo, dikutip Senin (14/9/2026).

Yogi mengungkapkan, tindakan penguncian teknologi oleh negara-negara pengembang tersebut tidak hanya berhenti pada teknologi pemisahan. Pembatasan juga diterapkan pada rantai pasok hingga bahan-bahan kimia yang diperlukan dalam proses pemisahan.

"Dan bahkan tidak hanya teknologi yang telah mereka kembangkan, tetapi semua sistem rantai pasok, bahan-bahan kimia yang menjadi kebutuhan di dalam proses pemisahan di dalam teknologi ini juga menjadi satu hal yang dikunci oleh sejumlah negara-negara yang telah mengembangkan," katanya.

Persaingan global sektor LTJ telah bergeser dari kepemilikan cadangan mineral menuju penguasaan teknologi dan rantai pasokan. Pergeseran tersebut terjadi seiring melonjaknya kebutuhan mineral untuk energi bersih, seperti mobil listrik yang meningkat 6 kali lipat dan pembangkit listrik tenaga angin darat yang meningkat 9 kali lipat dibandingkan pembangkit gas.

"Oleh karena itu, peran BIM hadir di sini adalah untuk memotong gap tersebut. Kita ingin menghubungkan antara hasil-hasil riset yang ada di perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN, dengan kebutuhan riil industri," paparnya.

Saat ini pihaknya fokus pada kinerja percepatan riset serta pengorkestrasian kolaborasi antara perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan pelaku industri. Hal itu mencakup proses peningkatan skala dari uji laboratorium menuju fasilitas percontohan hingga skala industri komersial.

"Kita optimistis bahwa Indonesia tidak hanya akan menjadi penonton atau penyedia bahan mentah saja, tetapi mampu meraih kedaulatan teknologi dan menjadi pemain kunci dalam rantai pasok logam tanah jarang global di masa depan," tandasnya.

(ven/wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Akan Sulit Kembangkan LTJ, Beberapa Negara Sudah Kunci Teknologinya


Most Popular
Features