MARKET DATA

Mata Uang Asia Terbakar: Rupiah, Ringgit-Yen Jatuh, Cuma China Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
14 September 2026 09:45
Ilustrasi Mata Uang Asing (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Mata Uang Asing (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia nyaris kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini. Dolar AS yang kembali menguat pagi ini menekan hampir seluruh mata uang kawasan.

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Senin (14/9/2026) per pukul 09.15 WIB, sebanyak sembilan mata uang melemah terhadap greenback. Sementara hanya satu mata uang yang mampu menguat.

Peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Peso melemah 0,34% ke posisi PHP 62,801/US$ yang sekaligus menjadi level terlemah peso sepanjang masa. 

Won Korea Selatan menyusul dengan pelemahan 0,30% ke posisi KRW 1.345,08/US$. Baht Thailand juga terkoreksi 0,18% ke THB 33,11/US$.

Yen Jepang dan dolar Taiwan sama-sama melemah 0,15%, masing-masing ke posisi JPY 153,77/US$ dan TWD 31,677/US$.

Rupiah juga ikut masuk ke zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,09% dan kembali ke posisi Rp17.600/US$.

Dolar Singapura turun 0,08% ke SGD 1,268/US$, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,05% ke MYR 4,070/US$. Dong Vietnam juga melemah tipis 0,02% ke VND 25.924/US$.

Di sisi lain, yuan China menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat pagi ini. Yuan naik tipis 0,01% ke posisi CNY 6,7072/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.17 WIB terpantau menguat 0,07% ke posisi 99,189.

Dolar AS masih bertahan di sekitar level tertinggi sepekan, seiring pasar menanti pekan penting bagi arah kebijakan moneter global. The Federal Reserve (The Fed) akan menggelar rapat FOMC pada Rabu pekan ini, sementara Bank of Japan (BOJ) diperkirakan menaikkan suku bunga pada Jumat.

Pelaku pasar semakin memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi konsumen AS pada Jumat menunjukkan harga kembali meningkat pada Agustus.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan ini mencapai 86%. Angka ini menunjukkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS kembali bergeser ke arah yang lebih ketat.

"The Fed bisa saja memutuskan untuk menunggu, tetapi hal itu menjadi rumit karena pertemuan Oktober berlangsung tepat menjelang pemilu sela AS, sementara menunggu hingga Desember akan terlalu lama," ujar Shane Oliver, chief economist and head of investment strategy AMP, dikutip dari Reuters.

Kenaikan ekspektasi suku bunga AS turut menjaga imbal hasil Treasury tetap tinggi. Yield Treasury AS tenor 2 tahun, yang biasanya sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, berada di 4,6148% setelah naik 26 basis poin pada pekan lalu.

Namun, penguatan dolar AS sejauh ini masih tertahan. Pasalnya, sejumlah bank sentral utama lain juga diperkirakan menaikkan suku bunga, sehingga selisih arah kebijakan moneter tidak sepenuhnya berpihak kepada dolar AS.

ING menilai kenaikan suku bunga The Fed dapat membantu dolar AS karena akan memperkuat kredibilitas kebijakan moneter bank sentral AS.

"Kami pikir dolar akan menyambut kenaikan suku bunga karena hal itu akan menopang kredibilitas kebijakan moneter The Fed dan sedikit meredam debasement trade," tulis analis ING, dikutip dari Reuters.

"Namun, dolar tidak perlu reli terlalu jauh. Bagaimanapun, menurut kami ini adalah kalibrasi ulang kebijakan The Fed, bukan siklus baru," lanjut ING.

Di sisi lain, harga minyak yang kembali melonjak juga ikut membayangi pasar. Harga minyak Brent naik hampir 3% ke US$107,51 per barel pada awal perdagangan Asia setelah serangan baru Houthi ke Arab Saudi dan serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Kenaikan harga minyak membuat kekhawatiran inflasi kembali meningkat. Kondisi ini turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, termasuk The Fed, masih memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan ketat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular