MARKET DATA
Internasional

Kritikus Pemerintah Dibunuh Jelang Pemilu, Diduga Ada Motif Politik

sef,  CNBC Indonesia
11 September 2026 06:10
Ilustrasi Meninggal. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Meninggal. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang influencer media sosial populer di Nigeria yang dikenal karena pandangan politiknya yang blak-blakan ke pemerintah dibunuh di rumahnya di kota Kano di utara. Hal ini terungkap dari pernyataan resmi keluarga dan kelompok hak asasi manusianya Rabu, sebagaimana dikutip AFP, Jumat (11/9/2026).

Ibrahim Khalil Dan Shagamu, 57 tahun, ditemukan tewas dengan tenggorokan digorok di rumahnya pada Selasa malam oleh teman dan tetangganya. Mereka yang curiga memanjat pagar setelah gagal membuka pintu sejak Senin.

Kematiannya terjadi ketika musim kampanye pemilu di negara terpadat di Afrika itu mulai berjalan. Perlu diketahui Nigeria akan melakukan 2024pemilihan presiden pada 16 Januari 2027.

"Ia terbunuh dengan luka parah di kepala," kata Aisha Sharu Lawan, kakak perempuan Dan Shagamu.

"Pemandangannya sangat mengerikan. Kedua ponselnya hilang," tambahnya.

Dan Shagamu mendapat ratusan ribu pengikut di Facebook dan TikTok, karena video agresifnya dalam bahasa Hausa yang kritis terhadap pemerintah mengenai masalah politik dan sosial lokal. Tidak jelas apakah kematiannya ada kaitannya dengan pandangan politiknya, namun Lawan mengatakan mereka mencurigai adanya pelanggaran.

"Temannya mengatakan dia berselisih paham dengan beberapa orang yang mengancam akan membunuhnya," kata Lawan, menyerukan penyelidikan dan penuntutan terhadap para pembunuh tersebut.

Dan Shagamu sendiri adalah reporter untuk stasiun radio lokal yang didanai negara sebelum ia menjabat dan menjadi aktif di media sosial, membangun basis penggemar yang besar. Amnesty International mengutuk pembunuhannya dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia "dibantai secara brutal setelah dikalahkan oleh para pembunuhnya."

Pemilu di Nigeria biasanya diwarnai dengan kekerasan, dengan merekrut politisi preman untuk mengintimidasi lawan dan membungkam perbedaan pendapat politik. Para preman bayaran ini menyebabkan kekacauan selama demonstrasi dan di tempat pemilihan umum untuk membantu kandidat mereka mendapatkan keunggulan atas lawan-lawannya.

"Menjelang pemilu, kami terus menerima laporan meresahkan mengenai ancaman terhadap kehidupan dan intimidasi yang berhubungan dengan politik," kata Amnesty International.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Misteri Pembunuhan Pelaku Bom Monako: Motif Tak Jelas-Uang Rp 145 Juta


Most Popular
Features