Harga Minyak Tembus US$110, Trump Umumkan Kapan Anjlok
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump mengisyaratkan harga minyak dan gas di Amerika Serikat (AS) belum akan kembali turun. Namun, persis setelah pemilu untuk memilih anggota Kongres AS di tengah masa jabatan presiden itu digelar awal November, ia menjamin harga minyak akan mengalami penurunan.
Pernyataan ini muncul saat perang AS-Iran memasuki bulan ketujuh dan harga energi kembali melonjak. Harga minyak global Brent sempat menembus US$101 per barel Rabu, untuk pertama kalinya sejak Juli, sedangkan WTI AS mencapai lebih dari US$96 per barel.
"Tepat setelah pemilihan, harga minyak akan anjlok," kata Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, sebelum bertolak ke Texas untuk menghadiri konvensi paruh waktu Partai Republik, seperti dikutip CNBC International Kamis (10/9/2026).
Trump menilai kenaikan harga energi dapat dijelaskan kepada publik dengan mengaitkannya dengan ancaman nuklir Iran. Nuklir juga menjadi alasan Trump memulai perang Februari lalu di mana salah satu serangannya di Teheran menewaskan pemimpin tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
"Anda hanya perlu bertanya, 'Apakah Anda akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir?' Dan jawabannya adalah tidak," ujarnya.
Ia juga memperkirakan perang dengan Iran akan berakhir "segera setelah pemilihan". Menurutnya, rezim Iran tidak akan mampu bertahan lebih lama.
Dikesempatan yang sama, Trump sekaligus menuding Iran berusaha memengaruhi hasil pemilu sela AS. Menurutnya Iran sedang menjalankan misi agar Paman Sam memiliki pemerintahan yang lebih lemah dan tidak lagi menekan program nuklirnya.
Pernyataan itu menjadi "pengakuan langka Trump" bahwa perang dan dampaknya terhadap harga energi AS kemungkinan masih akan berlangsung hingga melewati pemilu sela. Kondisi tersebut berpotensi menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik ketika isu inflasi dan mahalnya biaya hidup menjadi perhatian utama pemilih.
Trump sebelumnya berulang kali menyatakan kesepakatan damai dengan Teheran sudah dekat. Kini, ia justru lebih menekankan penghancuran kekuatan militer serta tekanan terhadap ekonomi Iran sementara militer AS mengklaim telah menghancurkan 10 kapal tanker Iran dalam sepekan terakhir dan Trump memperingatkan akan ada lebih banyak serangan.
Trump juga mengklaim harga bensin yang saat ini berada di level tertinggi akan turun di bawah US$2 per galon, tetapi mengakui penurunan itu mungkin baru terjadi setelah pemilu sela. Prediksi tersebut diragukan analis bahan bakar Patrick De Haan.
"Saya sama sekali tidak melihat adanya jaminan hal itu akan terjadi," kata De Haan melalui platform X.