Perang Timteng Makin Membara, AS-Iran Saling Serang Membabi-buta
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Eskalasi ini menjadi salah satu gelombang serangan terbesar terhadap pelayaran sejak perang berlangsung enam bulan terakhir.
Iran pada Rabu (9/9/2026) mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan setelah Washington menghancurkan lima kapal tanker minyak Teheran. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya satu pelaut tewas dan satu lainnya dilaporkan hilang.
Kondisi ini langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah berjangka Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, sementara gangguan lalu lintas kapal kembali mengancam jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
AS menyatakan operasi militernya dilakukan setelah Garda Revolusi Iran dua kali menargetkan kapal perang AS menggunakan rudal balistik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington telah menetapkan kebijakan untuk menyerang kapal tanker Iran sebagai respons setiap kali kapal perang AS terancam.
"Iran terus berupaya menyerang kapal-kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukan hal itu, mereka akan kehilangan kapal tanker," ujar Rubio kepada wartawan di Kolombia, seperti dikutip Reuters, Kamis (10/9/2026).
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menuding Teheran berupaya memengaruhi pemilihan umum sela AS pada November yang akan menentukan masa depan kendali Partai Republik di Kongres.
"Saya rasa perang akan segera berakhir setelah pemilihan umum karena mereka tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Mereka sangat berambisi untuk memengaruhi hasil pemilihan," ujar Trump kepada wartawan.
Iran kemudian menyatakan telah menembaki dua kapal militer AS dan delapan kapal tanker sebagai pembalasan. Korps Garda Revolusi Iran juga mengancam akan meningkatkan respons secara drastis dan segera memberlakukan zona terlarang baru di laut yang diperluas hingga kawasan Chabahar, dekat pesisir Pakistan.
Eskalasi juga merembet ke sejumlah titik lain. Pelaut di kapal tanker produk minyak Hercules Star tewas saat kapal berlabuh di lepas pantai Dubai, sementara tanker New Andros yang membawa sekitar 2 juta barel bahan bakar minyak terbakar setelah terkena drone di perairan Irak. Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, juga melaporkan sejumlah kapal dagang terkena serangan di kawasan Teluk bagian utara dan Teluk Oman.
Tekanan terhadap pasokan energi semakin besar karena arus minyak melalui Selat Hormuz kembali anjlok. Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti mengatakan volume aliran minyak kini turun menjadi sekitar 2 juta barel per hari, dari sebelumnya 8 juta-9 juta barel per hari sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus.
Dampaknya mulai terasa pada harga bahan bakar, dengan harga rata-rata diesel eceran di Amerika Serikat menembus rekor US$5,94 atau sekitar Rp104.544 per galon, dengan asumsi kurs Rp17.600/US$.