MARKET DATA

Manajemen Bongkar Nasib Harga BYD Usai Pabrik Subang Resmi Beroperasi

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
09 September 2026 07:15
Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT BYD Motor Indonesia resmi mengoperasikan pabrik mobil listrik di Subang, Jawa Barat. Kehadiran fasilitas produksi ini menandai peralihan BYD dari sebelumnya mengandalkan mobil impor utuh atau Completely Built Up (CBU) menjadi kendaraan yang diproduksi di dalam negeri.

Namun, jangan berharap harga mobil listrik BYD langsung menjadi lebih murah setelah diproduksi di Indonesia.

Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan harga kendaraan yang diproduksi di pabrik Subang tidak otomatis turun. Menurutnya, struktur fiskal pada masa transisi dari impor ke produksi lokal telah dirancang pemerintah agar tidak menimbulkan perubahan harga secara tiba-tiba.

"Jadi ada insentif dengan kompensasi investasi, sehingga membuat struktur fiskalnya itu sama, impor dan produksi sini. Artinya berarti tidak ada perubahan," ucap Luther usai peresmian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, dikutip Rabu (9/9/2026).

BYD sebelumnya menjadi salah satu peserta program insentif impor mobil listrik CBU yang diberikan pemerintah. Dalam skema tersebut, BYD memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan listrik yang diimpor hingga akhir 2025.

Sebagai kompensasinya, produsen peserta program diwajibkan membangun fasilitas produksi di Indonesia dan memproduksi kendaraan dengan jumlah yang setara dengan volume impor selama periode yang ditentukan pemerintah.

Luther mengatakan selama periode insentif tersebut BYD telah mengimpor sekitar 92 ribu unit mobil listrik ke Indonesia.

Kini, perusahaan mulai mengalihkan kebutuhan pasar domestik ke produksi dari pabrik Subang. BYD juga memastikan tidak akan menambah impor untuk model-model yang sudah masuk tahap produksi lokal. Mobil yang telanjur diimpor akan tetap dipasarkan hingga stoknya terserap.

Pabrik yang berada di kawasan Subang Smartpolitan Industrial Park tersebut berdiri di atas lahan sekitar 126 hektare dengan nilai investasi sekitar Rp16 triliun. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun atau sekitar 12.500 unit per bulan jika beroperasi pada kapasitas penuh.

Fasilitas tersebut telah memiliki empat proses utama manufaktur kendaraan, yakni stamping, welding, painting, hingga assembly.

Saat ini, sejumlah model mulai diarahkan untuk diproduksi secara lokal. Di antaranya BYD Atto 1 dan M6 DM. Produksi M6 EV dan Denza D9 juga telah disiapkan, sementara model lain akan mengikuti berdasarkan kebutuhan volume pasar.

Luther menilai besarnya volume produksi dan penjualan akan menjadi faktor penting untuk menentukan efisiensi biaya kendaraan. Artinya, produksi lokal tidak serta-merta membuat harga turun apabila utilisasi pabrik masih rendah.

"Kalau berbasis produksi tapi kita enggak dapat volumenya, juga akan malah menciptakan harga yang jauh lebih mahal," ujar dia.

"Nah, makanya sekarang kita konsentrasi sekali untuk mengoptimalkan nih produksi yang kita miliki, apalagi ini kapasitas bisa sampai 150.000 unit (per tahun)," katanya lagi.

Dengan kapasitas produksi yang besar, tantangan BYD selanjutnya bukan sekadar membangun pabrik, tetapi memastikan fasilitas tersebut dapat digunakan secara optimal. Semakin besar volume produksi, semakin besar pula peluang perusahaan menekan biaya per unit kendaraan.

Bagi konsumen, kondisi ini membuat kehadiran pabrik BYD di Indonesia belum otomatis berarti harga mobil listrik akan lebih murah dalam waktu dekat. Manfaat produksi lokal justru akan sangat bergantung pada skala produksi, tingkat penjualan, serta struktur biaya dan kebijakan fiskal yang berlaku.

Di sisi lain, peralihan ke produksi lokal membuat BYD semakin serius membangun basis manufaktur di Indonesia. Setelah sebelumnya mengandalkan pasokan kendaraan dari China, perusahaan kini mulai menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis produksi untuk memenuhi permintaan pasar domestik.

Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: Seseorang melewati area produksi perakitan mobil listrik di Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BYD Punya "Utang" ke Pemerintah RI, Harus Lunas 2027


Most Popular
Features