Tak Cuma Megathrust, Pakar Ingatkan Petaka Gempa Intra-Slab Ancam Jawa
Jakarta, CNBC Indonesia - Peringatan potensi ancaman dari pergerakan lempeng bumi telah berulang kali disampaikan oleh pemerintah, dalam hal ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), maupun para pakar kebencanaan. Yang diharapkan, peringatan ini tidak untuk menakut-nakuti, tapi jadi acuan untuk mitigasi bencana demi menekan fatalitas korban, bahkan sampai zero victim.
Salah satu yang sering jadi sorotan adalah potensi gempa dahsyat alias megathrust yang kerap disertai dengan potensi tsunami sebagai dampak ikutan. Indonesia disebut dikelilingi oleh 14 segmen megathrust. Tapi, ternyata tak cuma megathrust. Ada potensi sumber bencana selain megathrust yang mengancam Indonesia, dalam hal ini pulau Jawa.
Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengatakan, penting mewaspadai potensi bencana gempa besar di Pulau Jawa, yang memerlukan pemahaman mendalam mengenai mekanisme tektoniknya. Terutama ancaman yang berasal dari zonasi subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
"Selama ini, perhatian publik tertuju pada potensi gempa megathrust yang berada pada bidang kontak antarlempeng dangkal dan berisiko memicu gempa besar tsunami. Padahal, ada ancaman lain yang tidak kalah destruktif, yaitu gempa intra-slab (dalam lempeng)," katanya, Sabtu (5/9/2026).
"Gempa intra-slab (gempa di dalam lempeng) terjadi akibat proses deformasi dan patahan batuan (faulting) yang berlangsung di dalam lempeng tersubduksi pada kedalaman menengah (60-300 km) hingga dalam (di atas 300 km)," tambah dia.
Menurut Daryono, gempa intra-slab terjadi karena pecah, retak, atau patahnya batuan di dalam lempeng samudra yang sedang menukik ke bawah lempeng benua. Gempa intra slab dipicu oleh patahnya bagian dalam tubuh lempeng samudra yang sedang menukik ke bawah, yang terjadi karena tiga hal utama. Yaitu, gaya tarik gravitasi yang menarik ujung lempeng ke bawah hingga tubuhnya retak seperti biskuit yang diberi beban berat.
Kemudian, tekanan tekukan tajam yang membuat struktur lempeng patah akibat dipaksa melengkung layaknya penggaris plastik yang ditekuk ekstrem. Serta, dehidrasi batuan di mana suhu panas bumi "memeras" air keluar dari mineral batuan dan menciptakan tekanan internal yang membuat lempeng menjadi rapuh lalu pecah.
"Karakteristik mekanis intra-slab kerap memicu pergerakan tanah (ground motion) berkekuatan tinggi serta frekuensi gelombang yang menghasilkan spektrum guncangan sangat luas," ucapnya.
"Catatan seismisitas historis Pulau Jawa membuktikan betapa masifnya dampak seismik dari peristiwa intra-slab. Peristiwa seperti Gempa Jawa 1867 (M7,8), Gempa Jawa Barat/Banten 1903 (M7,9), hingga Gempa Jawa Tengah 1943 (M7,1) menjadi bukti empiris bahwa rilis energi stress tektonik di dalam slab lempeng mampu mengguncang area lintas provinsi dan menelan banyak korban jiwa," sambung Daryono.
Setidaknya, imbuh dia, sejarah mencatat deret peristiwa gempa intra-slab Jawa, yaitu:
1. Gempa Jawa 10 juni 1867 M7,8 500 tewas dan hampir seluruh pulau jawa mengalami kerusakan
2. Gempa Jawa 28 maret 1875 M7,6 hampir seluruh pulau jawa mengalami kerusakan
3. Gempa jawa barat & Banten 27 Feb 1903 M7,9 sangat merusak di banten, jawa barat dan Lampung
4. Gempa Jawa 23 Juli 1943 M7,1 kota yang mengalami ekrusakan adalah Cilacap, Tegal, Purwokerto, Kebumen, Purworejo, Bantul, dan Pacitan. Korban meninggal lebih dari 213 orang
5. Gempa Jawa barat 2 September 2009 M7,0 108 tewas
6. Gempa jawa timur 10 April 2021 10 tewas, kerusakan terjadi di 16 kabubaten dan kota.
"Bahkan peristiwa berskala menengah seperti Gempa Cilacap M5,3 pada 4 September 2026 kemarin siang dengan mekanisme pemicu berupa patahan turun (normal fault) akibat tarikan gravitasi (slab pull) dan bending lempeng, dirasakan hingga wilayah Jawa Timur adalah jenis gempa intra-slab," ujarnya.
"Fenomena ini menegaskan bahwa jika gempa intra-slab mencapai magnitudo M6,0 ke atas, gelombang S (shear wave) yang merambat efisien melalui struktur batuan padat slab lempeng akan melipatgandakan tingkat kerusakan infrastruktur di permukaan," jelas Daryono.
Lantas, apa yang dapat dilakukan mengantisipasi fenomena ini?
Kata Daryono, langkah utama dalam memitigasi dan mewaspadai gempa intra-slab terletak pada integrasi antara penguatan analisis seismologis dan rekayasa mitigasi struktural.
"Dari sudut pandang seismologi, pemetaan zonasi stress field serta pemantauan mikroseismik secara real-time pada litosfer tersubduksi sangat krusial untuk mengidentifikasi area percepatan batuan yang berpotensi runtuh," cetusnya.
"Informasi seismik ini harus dijadikan dasar utama dalam pembaruan peta bahaya kegempaan (seismic hazard map) wilayah Jawa. Di tingkat tapak, penerapan standar bangunan tahan gempa (building code) berbasis percepatan tanah puncak (Peak Ground Acceleration / PGA) menjadi benteng pertahanan paling mutlak," tegas dia.
Memang, ucap Daryono, gempa intras-slab tidak memicu tsunami. Tapi, bukan berarti dapat diabaikan.
"Mengingat karakter gempa intra-slab yang tidak memicu tsunami namun mendominasi guncangan tanah frekuensi tinggi, ketahanan konstruksi fisik bangunan tahan gempa dan kesiapsiagaan tata ruang adalah kuncinya. Untuk itu waspadai potensi gempa Intra-Slab," tegas Daryono.
(dce/dce)