Tak Terasa Ternyata Hari Ini Jawa Diguncang 5 Gempa, Ahli Ingatkan Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Tercatat setidaknya ada gempa yang mengguncang wilayah pulau Jawa hari ini, Senin (20/7/2026). Demikian terpantau dari unggahan di akun media sosial X BMKG.
Pertama, gempa M2,8 mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur pada pukul 09:26:32 WIB. Tepatnya lokasi gempa ada di 8,77 LS, 111,19 BT, ada di 66 km Tenggara Pacitan, Jawa Timur. Pusat gempa ada di kedalaman 20 km.
Lalu pada pukul 10:18:56 WIB, terjadi gempa M3,7. Kedalaman gempa ada di 16 km dengan lokasi tepatnya di 7,53 LS, 105,99 BT atau di 72 km Barat Daya Bayah, Banten.
Pada pukul 12:40:01 WIB terjadi gempa M2,9, masih di Banten. Tepatnya pusat gempa berlokasi di 7.00 LS, 105,46 BT atau 39 km Barat Daya Sumur, Banten, di kedalaman 27 km.
Gempa M2,8 mengguncang wilayah Bali pada pukul 13:03:34 WIB di kedalaman 24 km. Tepatnya lokasi gempa ada di 9,32 LS, 114,21 BT atau 116 km Barat Daya Jembrana, Bali.
Gempa kelima yang tercatat BMKG pusatnya berlokasi 8,34 LS, 108,71 BT atau 74 km Tenggara kabupaten Pangandaran, Jawa Barat di kedalaman 58 km. Gempa M2,9 itu terjadi pada pukul 14:34:39 WIB.
Lantas, apa sinyal yang ingin disampaikan kejadian alam tersebut?
Ahli gempa yang merupakan anggota Ikatan Ahli kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, gempa bumi berskala kecil atau mikro (minor and microearthquakes) bukanlah sekadar getaran sekilas yang bisa dilupakan begitu saja.
"Dalam kacamata seismologi, lindu beramplitudo kecil menyimpan informasi struktural yang sangat vital terkait dinamika kerak bumi di bawah kaki kita," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (20/7/2026).
"Setiap pelepasan energi mikro memberikan gambaran presisi mengenai keberadaan dan tingkat keaktifan zona patahan," tambahnya.
Sesar atau jalur subduksi yang sering melepaskan gempa kecil, jelas Daryono, menandakan zona tersebut mengalami pelemahan geser (shear weakening) dan sedang berada dalam fase deformasi aktif.
"Pola pemetaan episenter dan hiposenter dari gugusan gempa kecil ini membantu para ahli seismologi memetakan geometri patahan secara akurat, menentukan arah pergeseran (strike-dip), hingga mendeteksi akumulasi stres tektonik yang sedang berlangsung di sepanjang jalur sesar," katanya.
Selain itu, sambung dia, rentetan gempa kecil dapat bertindak sebagai foreshock atau gempa pendahulu sebelum terjadinya Pelepasan Energi Utama (mainshock).
"Pelepasan gelombang seismik secara bertahap dalam skala kecil mengindikasikan adanya mikroretakan (microfracturing) pada batuan di kedalaman yang semakin rapuh menahan tekanan tektonik," ucap Daryono.
"Meskipun gempa kecil kerap dianggap sebagai bentuk pelepasan energi secara bertahap, akumulasi energi tektonik skala besar pada zona terkunci (locked zone) tetap berpotensi memicu guncangan hebat di kemudian hari," kata Daryono.
Karena itu, tegasnya, memahami dan memantau gempa kecil adalah kunci dasar dalam rekayasa seismik dan pembuatan peta bahaya gempa bumi (seismic hazard mapping).
"Informasi spektrum gelombang dan tingkat frekuensi dari getaran kecil membantu para insinyur mengukur respons tanah lokal (site effect) serta amplifikasi gelombang, yang sangat penting untuk merancang," kata Daryono.
Gempa M 2.9,39 km Barat Daya Sumur-Banten. Kedalaman: 39 Km. (Dok. BMKG) Foto: Gempa M 2.9,39 km Barat Daya Sumur-Banten. Kedalaman: 39 Km. (Dok. BMKG) |
source on Google [Gambas:Video CNBC]
