Kemensos: Desil Bukan Penentu Kaya atau Miskin
Jakarta, CNBC Indonesia - Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan menjelaskan bahwa desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) bukan ukuran langsung tingkat pendapatan maupun status kaya atau miskin seseorang.
Menurutnya, desil merupakan sistem pemeringkatan kesejahteraan penduduk secara nasional yang dibagi ke dalam 10 kelompok berdasarkan urutan tingkat kesejahteraan.
"Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan. Desil 1 penghasilannya sekian atau desil 10 penghasilannya sekian, itu tidak bisa," jelas Andy, dikutip Jumat (4/9/2026).
Karena menggunakan sistem peringkat relatif, posisi desil seseorang dapat berubah meski kondisi ekonominya tidak berubah. Perubahan dapat terjadi ketika kondisi masyarakat lain dalam basis data mengalami perubahan.
"Misalnya bencana di Sumatera, sehingga banyak orang yang jatuh miskin, maka otomatis desil saya akan naik. Karena kalau direngking ulang secara nasional, ada orang yang turun, maka ada orang yang naik (desilnya)," jelas dia.
Andy mengatakan DTSEN diperbarui setiap tiga bulan sehingga dalam satu tahun terdapat empat versi data. Adapun, terkait dengan masuknya 12 juta data baru pada DTSEN Volume 3 menjadi faktor utama yang menyebabkan perubahan desil terasa sangat signifikan.
"12 juta data baru ini adalah sumber pemutakhiran di volume ketiga. Sumber pemutakhiran di volume ketiga ini menyebabkan naik turunnya desil terasa sangat signifikan. Ini langsung dievaluasi oleh BPS dan memang gejala di masyarakat kasuistis langsung kita tindaklanjuti," kata Andy.
Dalam kesempatan ini, Andy juga menegaskan bahwa desil bukan syarat tunggal dalam penentuan penerima bantuan sosial. Desil hanya digunakan sebagai instrumen prioritas ketika jumlah calon penerima melebihi kuota yang tersedia.
"Misalnya di dalam satu ruangan itu ada 10 orang yang berhak mendapatkan bantuan. Sementara pemerintah punya uangnya hanya untuk 5 orang. Maka desil berfungsi memilih 5 orang itu. Yang berada di desil 1 tentu lebih prioritas daripada mereka di desil 4. Yang di desil 4 lebih prioritas daripada mereka di desil 5. Itu cara memilih prioritas," jelas Andy.
Ia menambahkan, setiap program bantuan sosial memiliki kriteria penerima yang berbeda. Karena itu, seseorang yang berada di desil prioritas belum tentu menerima bantuan apabila tidak memenuhi syarat program.
Andy juga meluruskan persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa kenaikan desil otomatis membuat seseorang dianggap lebih kaya dan kehilangan bantuan sosial.
"Seolah-olah kalau desil naik, sama dengan tambah kaya. Kalau tambah kaya, sama dengan bantuannya hilang. Itu sama sekali tidak benar. Dan kalau bantuannya hilang, persepsi masyarakat adalah bantuannya dicabut, uangnya dialihkan ke program yang lain. Itu tidak benar. Karena jumlah bantuan sosial itu tetap dan bahkan bertambah. Kenapa ada orang yang memenuhi syarat tapi tidak mendapatkan (bansos), karena kuotanya terbatas," jelas Andy.
Sebagai tindak lanjut atas temuan perubahan desil yang signifikan pada DTSEN Volume 3, BPS telah menerbitkan DTSEN Volume 3.1 untuk memperbaiki hasil pemeringkatan yang dinilai belum stabil.
Kemensos mengimbau masyarakat yang merasa datanya belum sesuai untuk melakukan pemutakhiran melalui pemerintah desa atau kelurahan, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pemerintah daerah, maupun melalui aplikasi Cek Bansos dan kanal pengaduan resmi yang telah disediakan pemerintah.
(haa/haa)