MARKET DATA
Internasional

Presiden Ngamuk ke Investor Pabrik Asing, Langsung Usir dari Negaranya

tps,  CNBC Indonesia
04 September 2026 20:10
Kenya's President William Ruto gestures as he speaks during the launch of the 'National Conversation Beyond 2030' at the KICC, Nairobi, Kenya, August 12, 2026. REUTERS/Monicah Mwangi
Foto: REUTERS/Monicah Mwangi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kenya William Ruto secara mengejutkan memerintahkan salah satu perusahaan kimia terbesar asal India, Tata Chemicals, untuk segera berkemas dan angkat kaki dari negaranya. Langkah drastis ini diambil setelah pemerintah menilai perusahaan tersebut gagal memberikan manfaat yang cukup bagi negara karena hanya mengekspor mineral abu soda mentah ketimbang mengolahnya secara lokal menjadi bahan bernilai tambah seperti kaca dan bahan kimia industri.

Mengutip BBC, Jumat (04/09/2026), Ruto melontarkan kemarahannya tersebut saat melakukan kunjungan ke wilayah Kajiado, tempat berdirinya fasilitas pabrik Tata Chemicals Magadi. Ia menuduh perusahaan tersebut tidak berbuat cukup untuk rakyat Kenya dan hanya berfokus mengeruk sumber daya negara untuk dibawa ke luar negeri.

"Tata Chemicals Magadi telah memiliki kontrak selama 100 tahun, dan mereka tidak melakukan apa pun. Saya mengatakan kepada mereka tempo hari untuk berkemas dan pergi," tegasnya.

"Mereka tidak membangun apa pun di Kajiado, mereka tidak membangun pabrik apapun di Kajiado," ucapnya.

Ruto turut memastikan bahwa pemerintahannya telah mengidentifikasi serta menyiapkan dua investor baru untuk segera mengambil alih operasi dari Tata Chemicals. Ia berharap transisi ini mampu mendatangkan lebih banyak investasi nyata dan lapangan kerja bagi rakyat Kenya.

Sebagai latar belakang, pengusiran paksa ini terjadi lima pekan setelah menteri pertambangan Kenya mengarahkan Tata Chemicals Magadi untuk menangguhkan operasionalnya. Penangguhan tersebut diduga kuat dipicu oleh kegagalan perusahaan dalam memenuhi pembayaran royalti dan berbagai persyaratan peraturan lainnya.

Merespons memanasnya situasi, pihak Tata Chemicals menyatakan bahwa mereka menghormati keputusan pemerintah. Perusahaan mengklaim telah memberikan tanggapan komprehensif kepada kementerian terkait informasi kepatuhan dan kini tengah menunggu arahan lebih lanjut.

"Kami tetap berkomitmen pada keterlibatan konstruktif melalui saluran hukum dan peraturan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang belum selesai," paparnya dalam sebuah pernyataan tertulis.

Perusahaan yang merupakan bagian dari konglomerat raksasa Tata Group ini beroperasi di Danau Magadi, sekitar 120 km di barat daya ibu kota Nairobi, di mana mereka mengekstrak trona untuk diolah menjadi abu soda dan memproduksi garam alami.

Sejarah panjang operasional pabrik di lokasi ini sejatinya telah bergulir sejak 1911, disusul penandatanganan sewa pertambangan besar dengan pemerintah Kenya pada 1928. Tata Chemicals sendiri baru mengambil alih operasi tersebut pada tahun 2005 setelah mengakuisisi Brunner Mond Group yang berbasis di Inggris, dan sejak saat itu mereka mengklaim telah menjadi bagian integral dari ekonomi Kenya.

Secara global, Kenya merupakan produsen abu soda alami (natrium karbonat) terbesar keempat di dunia dengan menyumbang 1% dari produksi global menurut Survei Geologi AS. Mineral ini sangat vital dan digunakan luas dalam pembuatan kaca, bahan kimia, baterai, deterjen, tekstil, pengolahan air, hingga kertas.

Di benua Afrika, fasilitas di Magadi tersebut adalah produsen abu soda terbesar.

Perusahaan tercatat mengekspor lebih dari 95% produknya-atau sekitar 350.000 ton abu soda setiap tahunnya-ke pasar India, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan wilayah Afrika lainnya. Laporan keuangan tahun 2024 mereka membukukan penjualan sekitar 245.000 ton abu soda dengan total omzet mencapai US$ 78,7 juta atau setara Rp 1,39 triliun.

Selain mempekerjakan sekitar 500 karyawan, Tata Chemicals juga membela diri dengan menyoroti dampak sosial yang telah mereka berikan. Perusahaan mengklaim program komunitas mereka telah memberikan manfaat bagi sekitar 30.000 penduduk di sekitar Magadi melalui penyediaan air bersih, infrastruktur, perawatan kesehatan, hingga pendidikan.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Investor China, Korea hingga Jepang Berebut Masuk Madura, Ada Apa?


Most Popular
Features