Trump Beraksi Lagi, Usul Selat Hormuz Diubah Jadi "Selat Trump"
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial di tengah perang dengan Iran. Trump mengusulkan agar Selat Hormuz diganti namanya menjadi "Selat Trump" setelah sebelumnya mengeklaim Amerika Serikat telah menguasai jalur perairan strategis tersebut.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mempertanyakan apakah nama Selat Hormuz seharusnya diubah setelah Amerika Serikat disebutnya telah mengambil alih kendali atas kawasan tersebut.
"Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP??? Seperti Amerika sendiri, wilayah itu akan menjadi 'lebih panas' dari sebelumnya! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini. Presiden DONALD J. TRUMP," tulis Trump, dikutip Jumat (4/9/2026).
Saat ditanya wartawan di Gedung Putih pada Rabu mengenai seberapa serius rencananya untuk mengganti nama selat tersebut, Trump mengatakan gagasan itu baru sekadar dilontarkan.
Gagasan mengganti nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump juga sejalan dengan sejumlah langkah serupa yang muncul selama masa jabatan kedua Trump. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintahannya terlibat dalam sejumlah upaya perubahan nama geografis yang memicu kontroversi.
Beberapa hari sebelum mengusulkan nama Selat Trump, Trump memerintahkan sejumlah lembaga federal menggunakan nama "Danau Amerika" untuk menggantikan nama Danau Ontario. Langkah tersebut kembali memunculkan perdebatan serupa dengan keputusan Trump sebelumnya yang mendorong perubahan nama Teluk Meksiko menjadi "Teluk Amerika".
Usulan mengenai Selat Hormuz sebenarnya bukan pertama kali muncul dari Trump. Pada awal tahun ini, Trump pernah membagikan sebuah peta di Truth Social yang menampilkan Selat Hormuz dengan nama berbeda, yakni "Selat Trump".
Bernie Sanders Kritik Usulan Trump
Usulan perubahan nama Selat Hormuz tersebut juga mendapat kritik dari Senator independen Bernie Sanders dari Vermont.
Sanders mengatakan kepada Trump bahwa masyarakat AS sebenarnya menginginkan perang dengan Iran segera dihentikan, bukan mengganti nama jalur perairan strategis tersebut.
Dalam unggahan di X, Sanders menyebut perang tersebut "ilegal". Ia juga menyalahkan konflik itu atas kenaikan harga bahan bakar, dengan menyebut harga solar telah mencapai US$5,69 per galon dan bensin US$4,12 per galon.
"Anda adalah Presiden, bukan raja gila. Bertindaklah seperti itu," tulis Sanders.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]