MARKET DATA
Internasional

Trump Ultimatum Iran Soal Selat Hormuz: Cepat Buka atau Jadi Neraka!

tps,  CNBC Indonesia
06 April 2026 06:12
Presiden Trump menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan sidang gabungan Kongres di Ruang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, D.C., AS, Selasa (24/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Face the Nation)
Foto: Presiden Trump menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan sidang gabungan Kongres di Ruang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, D.C., AS, Selasa (24/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Face the Nation)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, mengeluarkan ancaman mengerikan yang dipenuhi kata-kata makian pada hari Minggu, (05/04/2026). Trump memperingatkan Teheran bahwa mereka memiliki waktu hingga Selasa malam untuk membuka kembali Selat Hormuz, atau Amerika Serikat akan membumihanguskan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut.

Ancaman keras ini disampaikan Trump melalui akun media sosial Truth Social miliknya dengan menegaskan bahwa militer Amerika Serikat siap melakukan tindakan ekstrem jika tuntutannya tidak segera dipenuhi. Trump menggeser tenggat waktu yang sebelumnya hari Senin menjadi Selasa malam dalam unggahan yang sangat agresif tersebut.

"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat Sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA! Puji Tuhan. Presiden DONALD J. TRUMP," tulis Trump mengutip The Guardian.

Trump kemudian mempertegas batas waktu serangannya dalam unggahan susulan di hari yang sama. Ia memberikan detail waktu yang sangat spesifik bagi otoritas Iran untuk segera tunduk pada kemauan Washington atau menghadapi kehancuran total infrastruktur nasional mereka.

"Selasa, 8:00 malam Waktu (Pantai) Timur!" tambah Trump dalam unggahan selanjutnya untuk memperjelas durasi ultimatum tersebut.

Meski melontarkan ancaman perang terbuka, Trump sempat memberikan sinyal adanya kemungkinan kesepakatan damai dalam wawancaranya dengan Fox News. Ia menyebut bahwa negosiasi sebenarnya sedang berlangsung, namun ia tetap menyiapkan opsi paling radikal untuk mengamankan sumber daya energi.

"Ada peluang bagus untuk sebuah kesepakatan pada hari Senin. Jika mereka tidak membuat kesepakatan dengan cepat, saya mempertimbangkan untuk meledakkan segalanya dan mengambil alih minyaknya," ujar Trump dalam wawancara tersebut.

Trump bahkan secara blak-blakan mengakui bahwa dirinya berada di balik penghancuran jembatan suspensi B1 setinggi 136 meter senilai US$ 400 juta (Rp 6,8 triliun) pada hari Kamis lalu. Ia sengaja memerintahkan serangan tersebut sebagai bentuk intimidasi karena menganggap pihak Iran mencoba mengulur waktu dalam proses perundingan.

"Tetapi kemudian mereka bilang akan menemui kami dalam lima hari. Jadi saya bilang, 'Kenapa lima hari?' Saya merasa mereka tidak serius. Jadi saya serang jembatannya," pungkas Trump saat berbicara kepada Axios.

Menanggapi rentetan ancaman tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa langkah sembrono Presiden Amerika Serikat hanya akan membawa kehancuran bagi seluruh wilayah Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa gertakan Trump justru akan menyeret Amerika ke dalam situasi yang sangat berbahaya.

"Langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang nyata bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kami akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu. Jangan salah: Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang. Satu-satunya solusi nyata adalah menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini," tulis Ghalibaf melalui akun media sosialnya.

Kritik tajam juga datang dari dalam negeri Amerika Serikat, di mana Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut tindakan Trump sebagai aksi yang tidak terkendali. Schumer menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil yang dilontarkan sang presiden sangat mencederai martabat negara.

"Selamat Paskah, Amerika. Saat Anda pergi ke gereja dan merayakan bersama teman serta keluarga, Presiden Amerika Serikat justru mengoceh seperti orang gila yang tidak terkendali di media sosial. Dia mengancam kemungkinan kejahatan perang dan mengasingkan sekutu. Inilah dia, tapi ini bukan siapa kita. Negara kita layak mendapatkan yang jauh lebih baik," tegas Schumer melalui platform X.

Senada dengan Schumer, pakar hukum internasional dari Universitas Yale, Oona A. Hathaway, memberikan peringatan dari sisi legalitas perang. Menurutnya, serangan terhadap objek sipil seperti yang direncanakan Trump jelas-jelas merupakan pelanggaran hukum internasional yang berat.

"Jika serangan yang diancamkan ini benar-benar dilakukan, maka itu akan menjadi kejahatan perang. Menyengsarakan penduduk sipil demi kepentingan tawar-menawar adalah tindakan yang tidak sah secara hukum," kata Hathaway.

(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Ancam Perang Total, Trump Sebut Bisa "Rata dengan Tanah"


Most Popular
Features