Wamen ESDM Resmikan Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara BUMI

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 01/09/2026 17:15 WIB
Foto: (Dok. esdm.go.id)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) tersebut ditargetkan menghasilkan 2 juta ton metanol per tahun.

Yuliot menegaskan bahwa pembangunan industri metanol berbasis batu bara kalori rendah menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik. Ia menyebut proyek tersebut menjadi prioritas pembangunan dalam program Asta Cita untuk menekan ketergantungan pada impor produk petrokimia yang membebani devisa negara.

"Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batubara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," ungkapnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (1/9/2026).


Mengolah Kalori Rendah

Yuliot berharap hilirisasi BEC dapat menjadi model bagi perusahaan batu bara lainnya, mengingat besarnya potensi batubara berkalori rendah di Kalimantan dan Sumatera.

"Kita akan terus mendorong hilirisasi ini yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam (program) Asta Cita," tegas Yuliot.

Proyek tersebut akan mengolah sekitar 7,70-7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.

Produksi ditargetkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, mengingat pada tahun 2025, Indonesia masih mengimpor sebesar 1,3 juta ton metanol atau senilai Rp 7,1 triliun

"Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplayer effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi," jelas Yuliot.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan perusahaan telah memasuki tahap engineering melalui penyusunanFront-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) sejak 29 Juli 2026.

"Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target comimsioning tahun 2029 seusai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional," jelas Rio.

Untuk menunjang kegiatan operasional, proyek tersebut dilengkapi fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Teknologinya juga disiapkan untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS).

Metanol yang dihasilkan akan memasok kebutuhan industri, terutama petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan FAME dan program B50.

Dengan begitu, gasifikasi batu bara menjadi metanol menjadi langkah hilirisasi untuk mengolah batubara berkalori rendah menjadi produk yang dibutuhkan industri sekaligus mengurangi impor dan memperkuat industri nasional.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

81 Tahun Merdeka: Deretan Komoditas Ini Menjadikan RI Raja Dunia