Rosan Lapor DPR, Investasi di RI tidak Lagi Eksploitasi Bahan Mentah
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, capaian realisasi investasi pada semester I tahun 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan Roeslani mengatakan, investasi berkontribusi sebesar 39% dari total pertumbuhan nasional, bahkan tumbuh tinggi dari yang biasanya hanya sebesar 28% sampai dengan 29%.
"Sebagaimana ditegaskan bapak presiden (Presiden Prabowo Subianto), angka-angka pertumbuhan ekonomi dan investasi bukanlah tujuan akhir. Tujuan kita adalah kesejahteraan rakyat. Setiap rupiah investasi harus menjadi pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR di ruang rapat Komisi XII DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (1/9/2026).
Dari capaian investasi tersebut, kata Rosan, telah menyerap sebanyak 1.450.000 tenaga kerja langsung. Angka tersebut naik 15% dibandingkan tahun sebelumnya., Angka ini, lanjut dia, belum termasuk kesempatan kerja tidak langsung dari aktivitas pendukung investasi.
Rosan menjabarkan, komposisi investasi pada semester pertama relatif berimbang. Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 507,6 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 503 triliun.
Berdasarkan sebarannya, investasi di luar Jawa mencapai 50,2%, sedikit melampaui Pulau Jawa. Selain lima provinsi di Jawa, lima provinsi di luar Jawa masuk dalam peringkat 10 besar lokasi investasi nasional antara lain, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Riau.
"Sektor terbesar adalah industri logam dasar dengan Rp 150,4 triliun, berkontribusi 15%. Sektor sekunder dan tersier kini menyumbang 85%," ungkapnya.
Rosan menyebut, kini investasi Indonesia tidak lagi berkonsentrasi pada eksploitasi bahan mentah, melainkan bergeser ke pengolahan bernilai tambah dan juga jasa produktif. Hilirisasi menjadi salah satu penggerak utama capaian tersebut, sekaligus penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Investasi hilirisasi mencapai Rp 300,1 triliun atau 29,7% dari seluruh investasi nasional pada semester pertama tahun ini. Angka tersebut dan sebesar tumbuh 6,9%.
"Hilirisasi mineral mendominasi dengan Rp 206,5 triliun, dipimpin nikel, bauksit, dan tembaga, disusul sektor perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan," jelasnya.
Rosan mengatakan, sebanyak 75,7% investasi hilirisasi berada di luar Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
"Ke depan, kami akan memperluas hilirisasi ini ke komoditas bernilai tambah lebih tinggi seperti semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut agar manfaat tidak hanya terbatas pada sektor mineral tapi juga pada sektor lain dan juga penciptaan lapangan pekerjaan," tutupnya.
(miq/miq)