Internasional

Media Israel "Semprot" Netanyahu, Terancam Perang dengan Anggota NATO

luc, CNBC Indonesia
Senin, 24/08/2026 06:30 WIB
Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadiri upacara peringatan Hari Peringatan Prajurit Gugur Israel, atau Yom HaZikaron, di Pemakaman Militer di Gunung Herzl di Yerusalem pada 21 April 2026. (via REUTERS/ILIA YEFIMOVICH)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melancarkan serangan terhadap target di Suriah mendapat kritik tajam dari media Israel Haaretz. Surat kabar tersebut memperingatkan bahwa eskalasi di Suriah justru berisiko menyeret Israel ke dalam konflik yang "tidak perlu" dengan Turki.

Dalam editorial yang diterbitkan pada Minggu (23/8/2026), Haaretz menilai langkah Netanyahu membuka front baru di Suriah ketika kekuatan internasional justru tengah berupaya menstabilkan negara tersebut.

"Ketika kami bertanya-tanya apakah, menjelang pemilu, Benjamin Netanyahu akan memilih untuk berperang di Gaza atau Lebanon, atau mungkin memicu Tepi Barat, dia memutuskan untuk melakukan langkah di Suriah utara, memperluas front dengan Turki," tulis Haaretz dalam editorialnya.


Menurut surat kabar tersebut, retorika Israel yang menargetkan Turki dalam beberapa bulan terakhir telah berkembang menjadi aksi militer langsung setelah pesawat Israel menyerang sebuah lapangan udara militer di Suriah utara pada Selasa.

Haaretz mengaitkan serangan tersebut dengan klaim Netanyahu bahwa operasi itu ditujukan terhadap perluasan kehadiran militer Turki di wilayah tersebut. Namun, klaim itu dibantah oleh Ankara dan Washington. Keduanya juga menuduh Netanyahu bertindak karena pertimbangan politik terkait pemilu.

Pada Selasa, pesawat Israel melancarkan delapan serangan terhadap landasan pacu pangkalan udara militer Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah barat laut. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan terhadap infrastruktur pangkalan udara.

Namun, setelah serangan berlangsung, sumber di Kementerian Pertahanan Turki mengonfirmasi bahwa tidak ada misi militer Turki di Pangkalan Udara Abu al-Duhur, baik sebelum maupun ketika serangan Israel dilakukan.

Hal tersebut menjadi penting dalam perdebatan mengenai alasan Israel melancarkan serangan tersebut, mengingat Netanyahu sebelumnya mengeklaim operasi itu berkaitan dengan perluasan kehadiran Turki di kawasan.

Adapun Ankara dan Washington telah membantah klaim Israel tersebut.

Haaretz juga mengutip peringatan Thomas Barrack, Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus AS untuk Suriah dan Irak.

Barrack memperingatkan bahwa serangan Israel tersebut "dapat meningkat menjadi konfrontasi militer langsung" antara Israel dan Turki. Pernyataan itu, menurut Haaretz, bahkan mengisyaratkan kemungkinan bahwa konfrontasi semacam itu mungkin memang menjadi tujuan Israel.

Namun, Barrack menegaskan bahwa Turki "tidak memiliki niat untuk menyerang Israel atau terlibat dalam konfrontasi militer dengannya."

Ia juga memperingatkan bahwa Israel mungkin "bertindak secara irasional" karena negara tersebut sedang memasuki periode pemilu.

Haaretz menilai serangan Israel dilakukan pada saat kekuatan-kekuatan internasional tengah berusaha menstabilkan Suriah. Namun, menurut surat kabar itu, Israel justru mengambil langkah yang bertentangan dengan upaya tersebut.

"Israel bertindak dengan cara yang bertentangan dengan logika ini," tulis Haaretz. "Karena itu, Israel tidak hanya menjauhkan Suriah, tetapi juga semua pemain lain yang terlibat di sana, terutama AS."

Surat kabar tersebut kemudian menyerukan agar Israel menyusun kebijakan baru untuk menghadapi berbagai tantangan baru dan semakin kompleks di Timur Tengah.

"Ketika Netanyahu membual tentang operasi yang sangat terarah di Suriah utara, yang berbahaya dan tidak ada gunanya, aliansi-aliansi baru sedang terbentuk di bawah hidungnya, dan Israel bukan bagian dari aliansi tersebut," tulis Haaretz.

Media Israel itu juga mempertanyakan pendekatan keamanan yang terlalu mengandalkan kekuatan militer.

"Seseorang tidak dapat menciptakan keamanan dan menggagalkan ancaman hanya dengan melakukan pengeboman. Ini bukan pengganti diplomasi dan kebijakan yang dipikirkan dengan matang, sesuatu yang pada era Netanyahu telah kehilangan maknanya," tulis surat kabar tersebut.

Haaretz kemudian mendesak Israel untuk memperhatikan peringatan Barrack. "Israel harus mendengarkan peringatan yang disampaikan utusan Barrack dan berhati-hati agar tidak terjerat konflik dengan Turki," tulisnya.

Sementara itu, setelah serangan terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur, pemerintah Suriah juga menyampaikan keberatannya melalui jalur diplomatik internasional. Suriah mengirimkan dua surat identik kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB.

Dalam surat tersebut, Suriah menyatakan bahwa serangan Israel yang terus berlangsung, termasuk serangan udara, penyusupan dan penculikan, "menghambat upaya stabilisasi dan mengancam kawasan dengan ketegangan lebih lanjut."

Suriah menilai serangkaian tindakan tersebut terjadi ketika proses stabilisasi negara masih berlangsung.

Israel sendiri telah memperluas serangannya di berbagai wilayah Suriah sejak rezim Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Israel Serang Suriah Saat AS "Mendekati" Pemerintahan Suriah