MARKET DATA
Internasional

"Gunung Sampah" Longsor Usai Hujan Deras, 30 Orang Tewas

luc,  CNBC Indonesia
24 August 2026 06:05
Rescue workers search through debris at a landfill after a landslide caused by heavy overnight rains killed people in the Dar es Salam area in Conakry, Guinea, August 23, 2026. REUTERS/Souleymane Camara
Foto: REUTERS/Souleymane Camara

Jakarta, CNBC Indonesia - Hujan deras yang mengguyur ibu kota Guinea, Conakry, memicu longsor besar di sebuah tempat pembuangan sampah (TPA) pada Minggu (23/8/2026) dan menewaskan sedikitnya 30 orang. Tumpukan sampah dalam jumlah besar runtuh dan menimbun tenda serta bangunan-bangunan sederhana di sekitarnya.

Pemerintah Guinea mengatakan longsor terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Selain 30 orang yang meninggal dunia, enam orang dilaporkan mengalami luka serius dan 16 lainnya mengalami luka ringan.

Bencana tersebut terjadi kurang dari sepekan setelah pemerintah mengumumkan rencana menutup lokasi pembuangan sampah tersebut dan memindahkan limbah ke tempat lain karena dianggap membahayakan masyarakat, terutama selama musim hujan.

Musim hujan di sejumlah wilayah Afrika Barat kerap meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang mematikan, terutama di kawasan perkotaan yang padat dan memiliki keterbatasan infrastruktur.

Tim penyelamat langsung dikerahkan ke lokasi untuk mencari korban dan membersihkan material longsor. Petugas menggunakan ekskavator serta peralatan lainnya untuk menyingkirkan tumpukan sampah dan material yang menimbun kawasan tersebut.

Sejumlah saksi mata mengatakan skala longsor sangat besar. Material sampah yang runtuh disebut cukup besar untuk menimbun sebuah bangunan apartemen, selain sejumlah tempat tinggal yang kondisinya lebih sederhana dan rentan.

Besarnya dampak longsor terlihat dari kesaksian warga yang kehilangan anggota keluarganya. Seorang perempuan bernama Cire Diallo mengatakan lima anaknya menjadi korban dalam bencana tersebut.

"Saya telah kehilangan semua anak saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah mempercayakan diri kepada Tuhan," kata Diallo, sebagaimana dilansir Reuters.

Pemerintah masih melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi. Alat-alat berat digunakan untuk membuka material longsor guna mencari kemungkinan korban lainnya sekaligus membersihkan kawasan yang terdampak.

Perdana Menteri Guinea Amadou Oury Bah kemudian mendatangi lokasi pada Minggu untuk melihat langsung kerusakan serta mengawasi penanganan bencana.

Dalam pernyataan pemerintah, Bah meminta masyarakat untuk "tetap tenang, menunjukkan solidaritas, dan secara ketat mengikuti instruksi dari layanan penyelamatan serta pihak berwenang."

Menteri Administrasi Teritorial Guinea Djenab Toure sebelumnya mengatakan pemerintah menutup tempat pembuangan sampah tersebut dan berencana memindahkan limbah ke lokasi di luar Conakry. Keputusan itu diambil karena kondisi TPA dianggap membahayakan, terutama dengan berlangsungnya musim hujan yang meningkatkan risiko longsor.

Adapun bencana tersebut terjadi di negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam besar, tetapi masih menghadapi persoalan kemiskinan dan keterbatasan infrastruktur.

Guinea memiliki cadangan bauksit terbesar di dunia serta salah satu deposit bijih besi yang belum ditambang terbesar dan terkaya di dunia di Simandou. Proyek pertambangan besar di kawasan tersebut mulai diluncurkan pada November.

Namun, kekayaan sumber daya alam tersebut berdampingan dengan kondisi infrastruktur yang buruk dan tingkat kemiskinan yang masih luas.

Menurut laporan Bank Dunia yang diterbitkan pada April, sekitar 3,7 juta dari total 15,1 juta penduduk Guinea hidup dengan pendapatan kurang dari US$4,2 per hari.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ribuan Gempa Nonstop Hantam NTT, Petaka Sesungguhnya Ancam Flores?


Most Popular
Features