Investor Kawasan Industri Mulai Jauhi Jakarta Cs, Tapi Malah Terancam
Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan industri Indonesia terus bergerak menjauh dari Jakarta menuju wilayah dengan biaya investasi yang lebih rendah. Pergerakan tersebut terlihat di sepanjang koridor timur hingga Pantura, termasuk kawasan Kendal dan Batang.
Pergeseran lokasi industri menjadi peluang bagi daerah untuk mendapatkan investasi dan lapangan kerja baru. Namun, pembangunan tersebut juga membawa tantangan lingkungan, terutama bagi kawasan pesisir yang menghadapi ancaman banjir rob dan abrasi.
"Yang pasti investor kawasan industri itu selalu mencari tempat dengan capex (belanja modal) dan opex (belanja operasional) yang rendah. Sekarang Jakarta udah enggak mungkin karena UMK-nya Rp5,1 apa Rp5,2 juta, makanya mulai bergeser ke arah Kendal, Batang, karena mungkin biaya SDM-nya masih bisa dikendalikan oleh para investor," kata Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota Indonesia (IAP) Adriadi Dimastanto kepada CNBC Indonesia Jumat (21/8/26).
Pertumbuhan kawasan industri di Pantura perlu diikuti perubahan cara pembangunan kawasan. Infrastruktur industri tidak bisa hanya mengejar kapasitas produksi tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Ancaman banjir rob dan abrasi dapat menjadi risiko jangka panjang bagi kawasan industri. Jika persoalan tersebut tidak ditangani sejak awal, biaya yang muncul di masa depan bisa jauh lebih besar.
"Kalau kita melihat ini berarti Pantura itu akan menjadi koridor industri, sementara Pantura itu juga punya tantangan tuh banjir rob, abrasi. Jadi industri yang berkembang harus punya visi sebagai green industry, bukan industri yang tidak memperhatikan sensitivitas lingkungan," ujarnya.
Pembangunan kawasan industri dapat sekaligus menjadi kesempatan untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Pengembang dan pelaku industri memiliki ruang untuk menyiapkan kawasan hijau, sistem tangkapan air serta infrastruktur yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pesisir.
Kendaraan investasi juga perlu dibarengi dengan tanggung jawab terhadap wilayah sekitar. Pengembangan industri seharusnya tidak membuat pemerintah daerah menanggung seluruh risiko lingkungan yang muncul dari pertumbuhan kawasan.
"Industri-industri Pantura tuh harus sudah mulai tahu bahwa mereka harus sediakan ruang hijau lebih banyak, tangkapan-tangkapan air, terus mencegah banjir gimana. Nah kalau mereka enggak pikirin itu, 5-10 tahun tenggelam itu Pantura. Kalau Pantura kemudian berkembang menjadi koridor industri, justru industri-industri inilah yang harus berperan membantu wilayah kita supaya punya keseimbangan lingkungan yang lebih baik lagi," kata Dimas.
Sebelumnya, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan aktivitas industri masih terkonsentrasi di beberapa sub-market utama. Bekasi dan Karawang menjadi wilayah dengan transaksi lahan terbesar pada semester pertama 2026.
"Baik, sebagai ringkasan pasar dari performa kawasan industri di Greater Jakarta, kami bisa sampaikan bahwa masih Bekasi dan Karawang saat ini sebagai sub-market dengan transaksi terbesar di semester 1 tahun 2026," ujar Syarifah dalam konpers virtual, Kamis (20/8/2026).
(dce)