Internasional

China Tiba-Tiba Puja-puji PM Malaysia Anwar Ibrahim, Ada Apa?

sef, CNBC Indonesia
Kamis, 20/08/2026 16:50 WIB
Foto: Presiden China Xi Jinping disambut oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat tiba di Kuala Lumpur pada Selasa (15/4) untuk memulai kunjungan resmi ke negara tersebut. (Instagram/anwaribrahim_my)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China tiba-tiba memuji Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim. Hal ini terjadi usai pria 79 tahun itu berkomentar soal "satu China" dalam sebuah wawancara global dengan laman Al-Jazeera awal pekan lalu.

Prinsip "satu China" sebenarnya terkait Taiwan. Ini merujuk hanya ada satu China, di mana Taiwan merupakan bagian dari Republik Rakyat China, yang mewakili China.

Anwar kala itu menyatakan dukungannya terhadap prinsip tersebut. Ia membela hak China untuk menggunakan kekuatan jika reunifikasi lintas Selat Taiwan secara damai gagal.


Dalam laporan terbaru Channel News Asia (CNA), Kamis (20/8/2026), China mengatakan sikap Anwar mencerminkan sentimen masyarakat dan komitmen komunitas internasional terhadap prinsip tersebut yang "tidak boleh digoyahkan". Unggahan khusus diberikan Kementerian Luar Negeri China ke Anwar melalui media sosial (medsos) X.

"China memuji pernyataan PM Malaysia Anwar Ibrahim mengenai masalah Taiwan dan sikap teguhnya terhadap prinsip Satu China," tegas kementerian.

"Tidak ada yang akan menghentikan China untuk bersatu kembali," bunyi pernyataan tersebut.

Hal senada juga dikatakan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian. Menurutnya mempertahankan prinsip "satu China" mencerminkan sentimen masyarakat dan "berpihak pada apa yang benar".

"Hanya ada satu China di dunia dan Taiwan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari wilayah China," kata Lin sebagai tanggapan atas pernyataan Anwar, sebagaimana dimuat Xinhua.

"Reunifikasi China merupakan tren sejarah yang tidak dapat dihentikan," katanya.

China tidak pernah mencabut opsi penggunaan kekuatan untuk membawa Taiwan berada di bawah kendalinya, tetapi Beijing mengatakan lebih mengutamakan "reunifikasi secara damai".

Meskipun negara-negara memiliki interpretasi berbeda mengenai kebijakan "satu China", Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam pernyataan bersama dengan China pada 2025 menyatakan bahwa Malaysia mengakui pemerintah Republik Rakyat China sebagai "satu-satunya pemerintahan sah China".

Pernyataan tersebut menyebut Taiwan sebagai "wilayah Republik Rakyat China yang tidak dapat dipisahkan". Untuk membantu China mencapai reunifikasi nasional, Malaysia juga menyatakan "tidak akan mendukung seruan apa pun untuk kemerdekaan Taiwan".

Sebelumnya, dalam wawancara dengan Al Jazeera, Anwar, yang berbicara dengan jurnalis Sreenivasan Jain dalam program "A Changing World? The Contest for Global Power", ditanya mengenai pandangannya terhadap keengganan Taiwan menerima pemerintahan China. Pewawancara bertanya apakah keinginan rakyat Taiwan tidak diperhitungkan, mengingat berbagai jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Taiwan tidak ingin diperintah Beijing.

Anwar menjawab bahwa alasan historis harus dipertimbangkan. Ia menegaskan bahwa Taiwan memang merupakan bagian dari China.

"Saya melihat Taiwan sebagai bagian dari China, titik," kata Anwar.

"Kita mungkin tidak setuju dengan... Ada beberapa hal yang berlebihan. Ya, sampaikan pandangan Anda. Namun, harus dalam konteks tersebut. Ini adalah satu China. Hal itu diterima oleh semua pihak," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai posisi China yang mempertahankan hak menggunakan kekuatan jika reunifikasi damai gagal, Anwar menggunakan Malaysia sebagai contoh. Ketika ditanya apakah itu berarti dirinya akan menggunakan kekuatan jika terjadi kemungkinan pemisahan diri, Anwar menjawab "iya".

"Saya akan menggunakan Malaysia sebagai contoh. Jika satu provinsi memutuskan untuk memisahkan diri, apakah kita menggunakan kekuatan? Saya pikir saya akan melindungi kesucian dan persatuan bangsa," katanya.

"Ya, jika tidak, negara akan terpecah," ujarnya.

Respons Taiwan

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Taiwan dengan cepat mengecam pernyataan Anwar. Kementerian tersebut menyebut Anwar membuat pernyataan "keliru" dengan "secara absurd menyiratkan bahwa Taiwan adalah provinsi China yang memisahkan diri dan secara terbuka membenarkan posisi China untuk menyatukan Taiwan melalui kekuatan".

"Mengingat hubungan erat antara kedaulatan nasional dan keamanan ekonomi, dukungan (Anwar) Ibrahim terhadap China dapat berdampak negatif terhadap kepercayaan pelaku usaha Taiwan yang berinvestasi di Malaysia," tambah kementerian tersebut, seperti dikutip Taiwan News.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Taiwan Siaga Hadapi Ancaman China - Kriteria Calon Gubernur BI