CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

AS Panas ke Malaysia, Hubungan Ekonomi & Keamanan Terancam Putus

sef,  CNBC Indonesia
22 July 2026 20:50
U.S. President Donald Trump holds the Malaysia and U.S. flags during a welcoming ceremony as he arrives at Kuala Lumpur International Airport to attend the 47th Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Summit, in Kuala Lumpur, Malaysia October
Foto: Ilustrasi (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Malaysia memanas. Hal ini terjadi usai sejumlah anggota Kongres Paman Sam mendesak Menteri Luar Negeri (Menlu) Marco Rubio untuk meninjau ulang hubungan keamanan dan ekonomi dengan Kuala Lumpur.

Desakan itu muncul menyusul pernyataan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim yang berjanji akan mendeportasi warga negara Israel jika ditemukan berada di wilayah Malaysia. Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Rubio, para anggota Kongres menyebut kebijakan Anwar terhadap warga Israel sebagai tindakan diskriminatif yang tidak sejalan dengan hubungan erat antara AS dan Israel.

"Kami mendesak Anda meninjau kembali hubungan keamanan dan ekonomi dengan Malaysia untuk memastikan hubungan tersebut tetap melayani kepentingan terbaik Amerika Serikat," demikian bunyi surat tersebut, yang salinannya dilihat CNBC Indonesia, Rabu (22/7/2026).

Para legislator juga meminta Departemen Luar Negeri AS menggunakan seluruh instrumen diplomatik yang dimiliki. Ini agar pemerintah Malaysia memahami bahwa kebijakan tersebut akan membawa konsekuensi.

Mereka bahkan mengusulkan agar pendanaan program International Military Education and Training (IMET) untuk Malaysia ditangguhkan apabila pemerintah Anwar tidak membatalkan kebijakan tersebut dalam waktu 15 hari. IMET merupakan program bantuan militer AS yang membiayai pelatihan personel militer negara mitra di AS.

Dipicu Pernyataan Anwar

Surat itu muncul setelah Anwar Ibrahim menyatakan pemerintah Malaysia akan melacak dan langsung mendeportasi setiap warga negara Israel yang ditemukan berada di Malaysia. Pernyataan tersebut berkaitan dengan penyelidikan pemerintah Malaysia terhadap proyek Network School, sebuah komunitas teknologi di kawasan Forest City, Johor.

Otoritas Malaysia menyelidiki dugaan adanya warga negara Israel yang masuk menggunakan paspor dari negara ketiga. Malaysia hingga kini memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan secara umum tidak mengizinkan pemegang paspor Israel memasuki wilayahnya tanpa izin khusus.

"Jika kami menemukan warga Israel, mereka akan segera dideportasi karena kami tidak mengakui Israel," kata Anwar saat menanggapi dugaan keberadaan warga Israel di sebuah komunitas teknologi di Johor.

Soroti Hubungan Malaysia-Hamas

Dalam surat itu, para anggota Kongres AS juga menyoroti hubungan Malaysia dengan Hamas. Mereka menuding Malaysia tetap menjalin hubungan terbuka dengan Hamas dan mengutip berbagai laporan yang menyebut kelompok tersebut pernah melakukan aktivitas pelatihan di wilayah Malaysia.

"Mereka menyambut teroris, sementara pada saat yang sama menargetkan warga Yahudi," tulis para legislator dalam surat tersebut.

Selain meminta evaluasi hubungan bilateral, mereka meminta Departemen Luar Negeri AS menjelaskan langkah konkret yang akan diambil sebagai respons atas pernyataan Anwar. Menurut mereka, bantuan keamanan, akses teknologi, hingga hubungan ekonomi yang diberikan AS kepada Malaysia seharusnya disertai ekspektasi bahwa Kuala Lumpur tidak mengambil kebijakan yang dianggap menyasar warga negara dari salah satu sekutu terdekat Washington.

Hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari Departemen Luar Negeri AS maupun pemerintah Malaysia terkait surat tersebut.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Geger 'Kampung Israel' di Malaysia, Anwar Ibrahim Mulai Bertindak


Most Popular
Features