Internasional

Perang Dagang AS-China Panas Lagi Jelang Pertemuan Trump & Xi Jinping

sef, CNBC Indonesia
Kamis, 13/08/2026 09:40 WIB
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas. Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif baru terhadap polisilikon, bahan baku penting untuk industri semikonduktor dan panel surya, yang sebagian besar pasokannya dikuasai China, akhir pekan lalu.

Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengenakan tarif impor 15% serta menetapkan harga minimum impor untuk polisilikon dan produk turunannya. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Desember 2026.


Langkah ini menjadi bagian terbaru dari upaya Washington mengurangi ketergantungan terhadap China dalam rantai pasok teknologi strategis. Polisilikon merupakan bahan utama dalam produksi semikonduktor dan panel surya.

China diketahui menguasai lebih dari 90% produksi polisilikon dunia pada 2024. Dominasi tersebut membuat bahan baku ini menjadi salah satu titik penting dalam persaingan teknologi antara kedua negara.

Mengutip laporan RT, Gedung Putih menyebut pangsa AS dalam kapasitas produksi polisilikon global telah anjlok dari 50% pada 2005 menjadi kurang dari 2% pada 2024. AS juga mengalami penurunan pangsa dalam kapasitas produksi wafer semikonduktor global, dari 37% pada 1990 menjadi hanya 10% pada 2024.

Beijing langsung mengecam kebijakan baru Washington. Pemerintah China menilai AS telah memperluas konsep keamanan nasional secara berlebihan dan menyalahgunakan kekuasaan negara untuk kepentingan perdagangan.

"Langkah AS tersebut secara serius mengganggu perdagangan normal dan pertukaran ekonomi antara perusahaan China dan AS," kata juru bicara Kedutaan Besar China Liu Chang kepada South China Morning Post (SCMP) dikutip Selasa (13/8/2026).

"Kebijakan proteksionisme tidak akan membuat AS menjadi lebih kompetitif," tambahnya.

Langkah Trump tersebut muncul hanya sehari setelah China mengumumkan serangkaian tindakan balasan. Beijing memperketat kontrol ekspor terhadap drone dan teknologi terkait, menjatuhkan sanksi terhadap tujuh perusahaan AS, serta melakukan tinjauan keamanan nasional terhadap impor yang berkaitan dengan perdagangan luar negeri.

China mengatakan kebijakan tersebut merupakan respons atas pembatasan terbaru AS terhadap sejumlah perusahaan dan produk China. Washington sebelumnya juga memperketat pembatasan terhadap chip kecerdasan buatan (AI) canggih, peralatan manufaktur semikonduktor, drone, kendaraan terhubung, serta sejumlah teknologi strategis lainnya.

Sementara itu, Beijing menggunakan kontrol ekspor terhadap mineral-mineral penting dan pembatasan terhadap sejumlah perusahaan AS sebagai alat tawar dalam menghadapi tekanan Washington. Eskalasi terbaru ini terjadi menjelang rencana pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping di AS pada bulan depan.

Dengan kedua negara semakin agresif menggunakan tarif, kontrol ekspor, sanksi, dan pembatasan investasi, persaingan AS-China kini tidak lagi hanya menyasar perdagangan barang. Tetapi juga semakin dalam ke sektor teknologi dan rantai pasok strategis.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video : Trump Ungkap Alasan Ganti Pesawat Saat di Turki