Daerah di Jabar Ini Mau Disulap Jadi Pusat Mebel dan Kerajinan RI

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 11/08/2026 17:55 WIB
Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan mebel di kawasan Daanmogot, Tangerang, Banten, Jumat (18/2/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peta pusat industri di Indonesia berpotensi semakin melebar. Madura, Jawa Timur, tengah disiapkan menjadi salah satu kawasan industri baru dengan masuknya investor dari berbagai negara. Di sisi lain, wilayah Priangan Tasikmalaya di Jawa Barat, juga didorong naik kelas menjadi pusat industri mebel dan kerajinan yang berorientasi ekspor.

Sementara di Jawa Barat, Tasikmalaya sudah lama dikenal dengan kemampuan pengrajin mengolah bambu, mendong, kayu, serat alam dan berbagai produk handmade. Namun, itu belum cukup untuk membawa Tasikmalaya masuk ke persaingan industri global. Pelaku usaha harus mulai mengubah cara bermain, dari sekadar menerima pesanan menjadi perusahaan yang mampu membangun pasar sendiri.

"Masalah utama Priangan bukan kekurangan talenta. Yang perlu kita benahi adalah mindset, positioning, sistem, dan akses terhadap pasar. Kita harus mengubah cara berpikir dari sekadar 'bisa membuat' menjadi 'mampu menguasai pasar'," kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).


Menurut Abdul, karakter industri global kini membuat buyer tidak hanya melihat apakah sebuah perusahaan mampu menghasilkan produk yang bagus. Konsistensi kualitas, kemampuan memenuhi pesanan, kapasitas produksi, ketepatan pengiriman, profesionalisme dan keberlanjutan menjadi faktor yang semakin menentukan.

"Buyer dunia membeli kepastian, bukan sekadar benda," ujar Abdul Sobur.

Pekerja menyelesaikan pembuatan mebel di kawasan Daanmogot, Tangerang, Banten, Jumat (18/2/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan mebel di kawasan Daanmogot, Tangerang, Banten, Jumat (18/2/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Pengembangan industri Priangan seharusnya tidak hanya terpaku pada produk bambu atau mendong. Material lain seperti kayu, kombinasi kayu dengan anyaman, metal dan tekstil juga dapat dikembangkan, termasuk produk dekorasi, suvenir hingga premium lifestyle products. Tujuannya adalah memperluas jenis produk tanpa kehilangan karakter lokal. Material yang digunakan boleh berbeda, tetapi standar kualitas yang ditawarkan kepada pasar global harus tetap tinggi.

Selain itu perlu diubah posisi pelaku dalam rantai industri. Perusahaan yang selama ini berperan sebagai subkontraktor didorong naik menjadi OEM atau Original Equipment Manufacturer, kemudian ODM atau Original Design Manufacturer, membangun merek sendiri hingga akhirnya memiliki akses langsung kepada buyer.

Untuk mempercepat proses itu, HIMKI mendorong pemetaan sekitar 30-50 perusahaan potensial di Priangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 perusahaan akan dikurasi untuk menjadi calon eksportir yang lebih siap masuk pasar internasional. Targetnya dalam enam hingga 12 bulan mulai muncul pesanan ekspor pertama atau ekspor yang kembali aktif. Dalam 12-36 bulan, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan repeat order sekaligus memperluas negara tujuan.

"Tasik tidak harus menjadi Jepara kedua. Jadilah Tasik yang terbaik-kuat pada detail tangan, kaya material, lincah berproduksi, dan dipercaya dunia. Jangan hanya menjadi pengrajin terbaik di Priangan. Jadilah eksportir yang membuat dunia datang ke Priangan," kata Sobur.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BPS Catat RI Defisit Neraca Dagang USD 450 Juta di Juni 2026