Pontang-panting Pengusaha RI Cari Pasar Baru Efek Perang-Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia usaha menghadapi gejolak geopolitik dan ketidakpastian global dalam beberapa waktu terakhir. Setelah perang di Timur Tengah, kini faktor internal seperti tekanan kurs dolar hingga lebih dari Rp 18.000 per dolar AS juga makin menekan industri dalam negeri.
Kalangan pengusaha mengungkapkan tengah melakukan berbagai strategi untuk tetap bisa bertahan di situasi saat ini, diantaranya memperluas pasar ke berbagai negara agar tidak hanya mengandalkan pasar yang monoton.
"Diversifikasi pasar atau jangan menumpuk di satu dua negara atau region, tapi agresif cari buyer baru mulai dari Eropa, Asia Timur, Australia, India," kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (5/6/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai US$66,85 miliar, dengan sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar US$54,98 miliar atau 82,25% dari total ekspor nasional. Angka tersebut tumbuh sebesar 3,96% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah tekanan kurs dolar yang terus menguat dan ketidakpastian geopolitik global, pelaku industri menilai strategi pemasaran menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha. Perusahaan tidak hanya dituntut menjaga efisiensi biaya produksi, tetapi juga harus mampu mengantisipasi potensi gangguan logistik dan perubahan permintaan dari pasar ekspor.
"Strategi pelaku usaha yang praktis dan bisa dieksekusi yakni memperkuat buffer produksi dan buffer waktu, misalnya lead time ditambah serta booking kapal lebih awal kemudian diversifikasi rute dan plabuhan pilihan sehingga mengurangi risiko satu rute," kata Sobur.
Pengusaha berupaya untuk lebih banyak melakukan ekspor, diantaranya dengan pameran IndoWood Expo 2026 yang mempertemukan pelaku industri dari hulu hingga hilir hingga pembeli domestik dan internasional.
Subur menegaskan, ekspansi industri furnitur dan kerajinan Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan kreativitas, tetapi juga oleh kemampuan pelaku industri dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta mengadopsi teknologi manufaktur modern.
"Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang kreatif, serta industri furnitur dan kerajinan yang produknya telah hadir di berbagai negara. Namun, untuk dapat bersaing secara global, kita perlu memperkuat produktivitas dan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi serta pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi," kata Sobur.
source on Google [Gambas:Video CNBC]