Pabrik Sepatu Teriak Efek Rupiah Anjlok-Perang Iran, Ada Ancaman PHK?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menekan industri padat karya dalam negeri. Industri persepatuan menjadi salah satu sektor yang merasakan lonjakan biaya bahan baku di tengah menguatnya dolar AS dan memanasnya konflik Iran.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (18/5/2026) dibuka melemah tajam ke level Rp17.630/US$. Posisi ini menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir, seiring derasnya aliran dana ke aset dolar AS akibat ketidakpastian global.
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan tekanan terhadap industri sepatu sudah terasa dalam beberapa waktu terakhir, terutama pada biaya bahan baku impor.
"Bahan baku sudah naik 30-40% efek perang Iran," kata Billie kepada CNBC Indonesia, Senin (18/5/2026).
Kenaikan biaya tersebut terjadi ketika pelaku industri masih menghadapi lemahnya permintaan global dan ketidakpastian pasar ekspor. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut memperberat beban produksi karena sebagian besar bahan baku industri sepatu masih bergantung pada impor.
Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan pola alas kaki sepatu kulit di workshop Flavio Boston di kawasan Jakarta, Rabu (19/6/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) |
Billie mengatakan keputusan kenaikan harga produk akhir tidak sepenuhnya berada di tangan produsen dalam negeri. Menurutnya, penyesuaian harga sangat bergantung pada buyer dan kondisi tarif masuk di negara tujuan ekspor.
"Kenaikan harga ditentukan buyer dan tarif masuk ke negaranya," ujarnya.
Tekanan kurs dan biaya logistik global membuat pelaku industri kini memilih bersikap hati-hati sambil memantau perkembangan pasar beberapa bulan ke depan. Perusahaan juga mulai fokus menjaga keberlangsungan operasional agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Masih wait and see 2-3 bulan untuk bertahan," kata Billie.
Di tengah situasi tersebut, industri sepatu berharap ada dukungan konkret dari pemerintah untuk menahan lonjakan biaya produksi. Salah satu yang dinilai paling mendesak yakni insentif fiskal bagi industri padat karya.
"Masih berupaya hindari PHK kepada tenaga kerja. Berharap buyer tetap berjalan normal. Butuh insentif fiskal dari pemerintah, diskon listrik dan gas untuk menutup biaya operasional produksi," tegasnya.
(fys/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan pola alas kaki sepatu kulit di workshop Flavio Boston di kawasan Jakarta, Rabu (19/6/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)