PLN dan Komunitas Rappo Makassar 'Sulap' 10,5 Ton Sampah Jadi Furnitur

Khoirul Anam, CNBC Indonesia
Selasa, 11/08/2026 16:45 WIB
Foto: Bersama Komunitas pemberdayaan Rappo, masyarakat Makassar ubah sampah jadi furnitur/Khoirul Anam

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat wilayah Pesisir Untia, Makassar, Sulawesi Selatan, bersama komunitas pemberdayaan Rappo, berhasil mengolah sampah plastik menjadi furnitur. 

Rappo merupakan bagian dari Program Komunitas Berdaya Nusantara. General Affair Rappo Riswanda Fatriansah menjelaskan mulanya Rappo melakukan daur ulang sampah kantong plastik pada 2020 hingga 2024. Adapun daur ulang sampah plastik jenis High-density polyethylene (HDPE) dan Polyethylene terephthalate (PET) dilakukan Rappo mulai 2024.

"Salah satu contohnya itu botol-botol minuman, tutup botol, botol oli, terus juga ada tupperware ibu-ibu, kotak-kotak makanan itu, terus plastik-plastik yang berbahan keras. Itu yang biasanya masuk di kategori HDPE, seperti itu," ungkap dia di lokasi workshop Rappo Indonesia, Pesisir Untia, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/18/2026).


Daur ulang sampah plastik jenis HDPE dan PET dilakukan melalui dukungan dari PT PLN. Pada 2024, Rappo menjadi komunitas binaan PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat (Sulselrabar), sejak 2024.

Dalam hal ini PLN IUD Sulselrabar memberikan dukungan berupa pembinaan dan pengadaan mesin pencacah.

"Dukungan yang diberikan itu pertama ada pendampingan untuk operator. Terus juga kita ada penyerahan mesin. Untuk penyerahan mesinnya itu kita ada mesin cacah terus juga mesin oven. Sama mesin injeksi. Ada total tiga," jelas Riswanda.

Dalam pengumpulan bahan baku sampah tersebut Rappo menjalin kerja sama dengan bank sampah dan masyarakat. Rappo juga membuka donasi sampah plastik dari kantor pusat di Pengayoman, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

"Biasanya kita mengedukasi ke bank sampah-bank sampah mitranya kita atau ke orang-orang atau masyarakat di Makassar itu kalau misalnya bawa sampahnya itu jenisnya ini (HDPE) yang kita terima. Jadi biasanya kita ada edukasinya," terang dia.

Sampah-sampah yang sudah terkumpul tersebut lalu diangkut untuk diolah. Setelah dikumpulkan, sampah plastik disortir dan dibersihkan. Sampah plastik kemudian melalui proses pencacahan menjadi butiran kecil.

Selanjutnya butiran kecil dari sampah plastik tersebut dipanaskan dan dibentuk papan untuk kemudian dapat diolah daur oleh pengrajin.

Dalam satu bulan, Rappo mengolah sebanyak 50 hingga 100 kilo sampah plastik baik HDPE maupun PET untuk dijadikan berbagai jenis produk daur ulang. Sementara itu sejak 2020 hingga 2026, Rappo berhasil mengolah hingga 10,5 ton sampah plastik.

Selain furnitur, produk yang dihasilkan Rappo Indonesia yakni plakat hingga aksesori seperti gantungan kunci. Target penjualan produk tersebut ke industri hotel, restoran, cafe (horeca) dan properti.

Lebih lanjut, Riswanda menjelaskan Program Komunitas Berdaya Nusantara menyerap sebanyak 20 hingga 25 tenaga kerja dengan penghasilan yang diterima sebesar hingga Rp 2 juta per bulan. Bahkan tenaga kerja tersebut dari kaum perempuan yang merupakan ibu rumah tangga.

"Jadi selain kita aware juga dengan lingkungan, kita sebenarnya aware juga dengan kesetaraan masyarakat. Apalagi kita menjalin kerja sama kemitraan dengan masyarakat yang di Untia. Di mana rata-rata mereka itu sebenarnya punya penghasilan menengah sampai ke bawah. Bahkan ada yang tidak berpenghasilan," ungkap dia.

Dalam kesempatan yang sama, Officer Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar Khayrunnisa menjelaskan kolaborasi dengan Rappo yang berjalan sejak Desember 2024 atau selama 1,5 tahun telah mengelola 10,5 ton sampah HDPE dan PET untuk menghasilkan furnitur, plakat, dan aksesori.

Kerja sama dilakukan karena daur ulang sampah menjadi produk bernilai merupakan hal baru di Makassar. Selain itu upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya poin 8.

"Kami merasa bangga dengan bahwa apa yang kita mulai ini ternyata berdampak besar terhadap masyarakat termasuk untuk kemandirian ekonomi," jelas dia.

Khayrunnisa berharap ke depan kerja sama ini akan meningkatkan kapasitas pengolahan sampah plastik hingga dua kali lipat atau mencapai 20 ton. Target ini ditetapkan demi memperkuat ekonomi sirkular di wilayah Makassar.

"Kan awalnya satu pengelolaan sampahnya itu 300 kilo per bulan. Nanti kami berharap bakalan sampai 2 kali lipatnya dan tenaga yang terserap. Berarti dari awalnya 10,5 bisa jadi 20 ton," tegas dia.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Listrik Padam, PLN Ungkap Gangguan Suplai Dari Gandul ke Arah Cirendeu