Negara di Tepi Jurang Krisis, Investor Berpesta-Rakyat Masih Merana
Jakarta, CNBC Indonesia - Reformasi ekonomi besar-besaran yang dijalankan Presiden Nigeria Bola Tinubu selama tiga tahun terakhir mulai membuahkan hasil bagi pasar keuangan dan investor. Namun di saat yang sama, jutaan warga Nigeria justru menghadapi biaya hidup yang terus melonjak, memperlebar jurang antara optimisme investor dan kesulitan yang dialami masyarakat sehari-hari.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Grace Adama, seorang pekerja lembaga swadaya masyarakat (LSM) kesehatan yang tinggal di Abuja, ibu kota Nigeria. Setiap pagi, ia bersiap berangkat kerja dari apartemen dua kamarnya. Namun meski menerima gaji bulanan sebesar 135.000 naira atau sekitar US$99, hampir dua kali lipat upah minimum nasional, ia mengaku semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup.
"Jika saya menerima gaji hari ini, gaji saya hanya bertahan selama satu minggu," kata Adama kepada Reuters, dilansir Senin (10/8/2026). "Kalau melihat biaya hidup, biaya rumah, listrik, semuanya naik."
Penurunan standar hidup jutaan warga Nigeria terjadi seiring reformasi ekonomi yang dijalankan pemerintahan Tinubu. Kebijakan tersebut mencakup penghapusan subsidi bahan bakar, devaluasi mata uang naira, dan pemangkasan subsidi listrik.
Pemerintah Nigeria dan para investor menilai langkah-langkah tersebut penting untuk menyelamatkan negara dari ancaman krisis fiskal dan akan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Namun dampak langsungnya terasa berat bagi masyarakat. Menurut indeks yang disusun SBM Intelligence berbasis di Lagos, biaya membuat beras jollof, makanan pokok yang sangat populer di Nigeria, kini lebih dari dua kali lipat dibandingkan saat Tinubu mulai menjabat.
Harga bahan bakar juga melonjak enam kali lipat setelah subsidi dicabut, diperparah oleh pelemahan nilai tukar naira dan kenaikan harga minyak dunia.
Kemiskinan Naik, Investor Makin Optimistis
Bank Dunia memperkirakan lebih dari separuh penduduk Nigeria hidup dalam kemiskinan tahun lalu. Angka itu meningkat dibanding sekitar 42% pada 2022.
Kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat membuat sebagian warga menjuluki Tinubu dengan sebutan "T-Pain", merujuk pada penderitaan akibat kenaikan biaya hidup.
Di sisi lain, investor justru memandang reformasi tersebut sebagai langkah yang tepat.
"Ini mungkin periode paling positif bagi investor terhadap Nigeria dalam dua dekade terakhir," kata Manajer Portofolio perusahaan investasi Ninety One, Thys Louw. "Mereka sedang menelan obat yang pahit sekarang."
Perbedaan tajam antara warga seperti Adama yang terhimpit biaya hidup dan pasar keuangan yang berkembang pesat memperlihatkan kontras yang makin jelas di Nigeria. Negara itu memang sejak lama dikenal sebagai negara dengan kesenjangan mencolok, mulai dari Lagos yang kosmopolitan hingga Maiduguri di timur laut yang dilanda ancaman kelompok militan, serta kawasan mewah dengan rumah-rumah megah yang berdampingan dengan permukiman sederhana beratap seng.
Situasi ini menjadi tantangan politik bagi Tinubu menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Januari mendatang. Ia harus meyakinkan pemilih bahwa manfaat reformasi ekonomi pada akhirnya akan dirasakan masyarakat luas.
"Saya bahkan tidak bisa mengirim uang kepada ibu saya yang sudah tua di kampung halaman saya di Benue. Saya tidak bisa melakukan banyak hal yang dulu bisa saya lakukan," kata Adama.
Ia mengaku kini mengurangi konsumsi daging, pindah ke apartemen yang lebih kecil, dan masih harus mengandalkan pinjaman jangka pendek untuk membayar tagihan.
Bursa Saham Melonjak, Kredit Tetap Sulit
Masa pemerintahan Tinubu datang setelah delapan tahun kebijakan ekonomi yang tidak lazim di bawah Presiden Muhammadu Buhari. Saat itu pemerintah menerapkan larangan impor untuk mendorong industri dalam negeri, kontrol ketat terhadap nilai tukar mata uang, serta subsidi bahan bakar yang besar.
Kebijakan tersebut menyebabkan kelangkaan barang impor, menyulitkan akses terhadap devisa, dan menguras anggaran negara. Pada 2022 saja, subsidi bahan bakar dilaporkan menghabiskan sekitar US$10 miliar dari kas pemerintah.
"Kami hidup dalam ilusi fiskal," kata Menteri Keuangan Nigeria Taiwo Oyedele dalam sebuah acara di Abuja. "Kami harus berhenti menipu diri sendiri agar negara ini bisa maju."
Pemerintah Tinubu menilai reformasi mulai menunjukkan hasil positif. Bursa saham Nigeria telah naik hampir 60% sepanjang tahun ini. Pemerintah juga menyoroti pengalihan aset minyak kepada perusahaan lokal serta beroperasinya kilang minyak Dangote berkapasitas 650.000 barel per hari di luar Lagos sejak 2024.
Selain itu, arus modal masuk ke Nigeria mencapai US$23 miliar tahun lalu, tertinggi dalam enam tahun terakhir, menurut Biro Statistik Nasional.
Meski demikian, manfaat pertumbuhan tersebut belum dinikmati sebagian besar masyarakat. Bursa saham Nigeria mencatat kurang dari 5% warga dewasa negara itu berinvestasi di pasar modal.
Selain itu, sebagian besar arus modal yang masuk berupa dana jangka pendek yang dapat dengan cepat keluar apabila kondisi ekonomi memburuk.
Pelaku usaha dan masyarakat juga masih kesulitan memperoleh pinjaman murah. Suku bunga acuan bank sentral saat ini berada di level 26,5% di tengah upaya menekan inflasi yang masih mendekati 16%.
Harga bensin rata-rata nasional kini sekitar 1.600 naira per liter. Meskipun lebih murah dibandingkan Ghana dan Pantai Gading, angka tersebut tetap dianggap terlalu tinggi oleh banyak warga yang selama bertahun-tahun menikmati bahan bakar murah sebagai salah satu manfaat utama dari pemerintah.
"Solusi bagi saya adalah pemerintah harus menurunkan harga bahan bakar," kata penjual makanan di Lagos, Eji Uchenna.
Menurutnya, pelanggan kini tidak lagi mampu membeli dalam jumlah besar seperti sebelumnya.
Ketidakpuasan Meningkat
Ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi terus meningkat. Pada Juni lalu, pekerja federal menolak usulan upah minimum sebesar 100.000 naira dan mengancam akan melakukan mogok nasional tanpa batas waktu.
Survei sentimen pemilih yang dilakukan SBM Intelligence pada Juni juga menunjukkan sekitar 80% warga Nigeria menilai negara mereka bergerak ke arah yang salah.
Selain ekonomi, persoalan keamanan menjadi perhatian utama masyarakat. Kasus penculikan masih marak terjadi di berbagai wilayah negara tersebut.
Meski demikian, Kepala Eksekutif SBM Intelligence Cheta Nwanze menilai kemarahan publik belum tentu cukup untuk menggulingkan Tinubu karena oposisi masih terpecah.
"Opposisi tidak bersatu, dan satu-satunya cara oposisi mengalahkan Tinubu adalah jika mereka bersatu," kata Nwanze.
Sementara itu, Louw meyakini masyarakat pada akhirnya akan mulai merasakan manfaat reformasi apabila pemerintah tetap konsisten menjalankan kebijakan yang ada. Menurutnya, penurunan inflasi akan membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga sehingga dapat membantu dunia usaha dan rumah tangga.
Pemerintah juga mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar hasil reformasi benar-benar dirasakan seluruh warga Nigeria.
Oyedele menegaskan pemerintah harus memastikan kemakmuran dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. "Kami harus menciptakan kemakmuran bagi seluruh rakyat Nigeria," ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa kesenjangan yang terus melebar dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas negara.
"Ketika ketimpangan terus bertahan, itu menjadi berbahaya. Rasanya seperti duduk di atas tumpukan mesiu; suatu saat akan meledak," kata Oyedele.
(luc/luc)