Turki, Arab Saudi & Pakistan Bikin 'NATO Islam', Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta kekuatan Timur Tengah kembali berubah. Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani pakta pertahanan bersama di Mekkah pada 7 Agustus 2026, yang memuat prinsip bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
Kesepakatan yang dikenal sebagai Mekkah Joint Defense Agreement itu ditandatangani Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), dan Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif. Ada apa?
Mengutip RT, Selasa (11/8/2026), pakta tersebut memicu munculnya label "NATO Islam" karena memiliki prinsip pertahanan kolektif yang mengingatkan pada mekanisme aliansi pertahanan NATO. Namun, ketiga negara belum secara resmi menyebut kesepakatan tersebut sebagai "NATO Islam".
"Bagi Turki, kesepakatan ini bukan sekadar kerja sama militer. Pakta tersebut membuka ruang bagi Ankara untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah sekaligus memperkuat posisi tawarnya di tengah perubahan peta geopolitik kawasan," tulis pengamat, Wakil Presiden Pusat Timur Tengah Moskow, Mishel Bychkova.
Turki memiliki salah satu kekuatan militer terbesar di kawasan dan merupakan anggota NATO. Negara tersebut juga dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan industri pertahanan secara agresif, mulai dari drone hingga sistem persenjataan dan kapal perang.
Sementara itu, Arab Saudi memiliki kekuatan finansial dan posisi strategis di kawasan Teluk. Pakistan memberikan dimensi lain karena memiliki militer besar dan kemampuan nuklir.
"Gabungan ketiga kekuatan tersebut menciptakan kombinasi yang menarik: kemampuan militer dan industri pertahanan Turki, kekuatan finansial Arab Saudi, serta kapasitas militer Pakistan," tambahnya.
Bukan Berarti Keluar dari NATO
Khususnya bagi Turki, analisis Bychkova lagi, kesepakatan ini tidak berarti Turki meninggalkan NATO. Sebaliknya, Ankara dapat menggunakan kerja sama baru tersebut untuk memperluas ruang geraknya.
Turki tetap berada dalam sistem keamanan NATO, tetapi pada saat yang sama membangun jaringan pertahanan baru dengan negara-negara di luar aliansi Barat. Langkah ini sejalan dengan pendekatan Presiden Erdogan yang selama bertahun-tahun berupaya menjaga hubungan dengan berbagai pusat kekuatan dunia.
"Turki tetap memiliki hubungan strategis dengan negara-negara Barat, tetapi juga mempertahankan komunikasi dengan Rusia, Iran, serta memperkuat hubungan dengan negara-negara Teluk," tambahnya.
"Dengan pakta Mekkah, Ankara berpeluang memainkan peran lebih besar dalam menentukan arah keamanan Timur Tengah tanpa sepenuhnya bergantung pada Washington," jelasnya.
Senjata Turki Jadi Modal
Salah satu modal terbesar Turki dalam kerja sama tersebut adalah industri pertahanannya. Produk pertahanan Turki telah berkembang menjadi instrumen penting diplomasi Ankara. Hubungan pertahanan dengan Arab Saudi, misalnya, telah mencakup kerja sama industri dan transfer teknologi.
Arab Saudi sendiri tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pemasok senjata Barat dan membangun industri pertahanan domestik. Kondisi tersebut menciptakan kepentingan yang saling melengkapi.
Turki membutuhkan pasar dan investasi untuk memperbesar industri pertahanannya, sementara Arab Saudi membutuhkan teknologi dan kemampuan produksi untuk memperkuat industri militernya. Pakistan menambah dimensi strategis lainnya melalui pengalaman militernya serta hubungan pertahanan yang telah lama terjalin dengan Turki dan Arab Saudi.
"Namun, pakta tersebut tidak otomatis berarti ketiga negara membentuk satu kekuatan militer terpadu. Dampaknya akan sangat bergantung pada seberapa jauh kerja sama tersebut diterjemahkan ke dalam latihan bersama, pertukaran intelijen, perencanaan pertahanan, serta integrasi industri pertahanan," jelasnya.
Israel dan Iran Jadi Perhatian
Menurut Bychkova, kemunculan poros baru ini terjadi ketika Timur Tengah menghadapi ketegangan yang semakin tinggi. Hubungan Turki dan Israel sendiri memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Ankara semakin vokal mengkritik kebijakan Israel. Sementara kepentingan kedua negara mulai beririsan di Suriah.
Di sisi lain, Iran juga menjadi faktor penting. Turki memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Teheran, tetapi kedua negara juga bersaing dalam memperebutkan pengaruh di sejumlah wilayah, termasuk Suriah, Irak, dan kawasan Kaukasus.
"Karena itu, pakta Mekkah tidak otomatis dapat disebut sebagai aliansi anti-Iran maupun anti-Israel," ujarnya.
Pakistan bahkan menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bersifat defensif dan terbuka bagi negara lain. Mesir disebut sebagai salah satu negara yang berpotensi bergabung, meski belum menjadi bagian dari kesepakatan saat ini.
Timur Tengah Mulai Bangun Kekuatan Sendiri
Lebih jauh, kesepakatan ini menunjukkan keinginan negara-negara kawasan untuk memiliki lebih banyak pilihan dalam urusan keamanan. Arab Saudi selama puluhan tahun sangat bergantung pada payung keamanan Amerika Serikat (AS).
"Namun, meningkatnya konflik di kawasan membuat Riyadh mencari lapisan keamanan tambahan," katanya.
Turki menawarkan kekuatan militer dan teknologi pertahanan. Pakistan menawarkan pengalaman militer dan posisi strategis di Asia Selatan. Arab Saudi menyediakan kekuatan ekonomi dan akses ke pasar serta modal.
"Bagi Ankara, kombinasi tersebut dapat menjadi modal untuk mengubah kekuatan militernya menjadi pengaruh politik yang lebih besar," jelasnya.
Karena itu, meski terlalu dini menyebut pakta Mekkah sebagai "NATO Islam" dalam arti sebenarnya, kesepakatan tersebut jelas menunjukkan munculnya arsitektur keamanan baru yang lebih banyak digerakkan oleh negara-negara kawasan. Jika kerja sama ini terus berkembang, Turki bukan hanya menjadi anggota NATO di sisi Eropa, tetapi juga dapat tampil sebagai salah satu pemain utama dalam membentuk tatanan keamanan baru di Timur Tengah.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]