BPS Kasih Penjelasan Harga Terkini Beras, Minyak Goreng-Bawang Putih

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 10/08/2026 15:10 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sejumlah harga pangan masih berada di atas acuan pemerintah pada minggu pertama Agustus 2026. Komoditas yang perlu mendapat perhatian antara lain beras dan minyak goreng, sementara harga bawang putih mulai menunjukkan penurunan meski masih berada di atas harga acuan penjualan (HAP).

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, berdasarkan pemantauan perkembangan harga pangan hingga minggu pertama Agustus 2026, beras dan minyak goreng sudah berada pada level harga yang relatif tinggi, meski perubahan IPH-nya relatif rendah.

"Kalau kita lihat beras dan minyak goreng ini level harganya sudah relatif tinggi di atas HAP, untuk minyak goreng dan beras juga ada beberapa sudah di atas HAP," kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (10/8/2026).


Berdasarkan data BPS, secara nasional harga rata-rata beras semua kualitas pada minggu pertama Agustus 2026 mencapai Rp15.545 per kilogram (kg), naik tipis 0,16% dibandingkan Juli 2026.

BPS juga mencatat masih terdapat 106 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH beras hingga minggu pertama Agustus 2026.

Harga beras tertinggi bahkan mencapai Rp50.000 per kg, dengan sejumlah wilayah seperti Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Intan Jaya, dan Kabupaten Nabire masuk dalam daftar daerah dengan harga tertinggi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan beras masih perlu mendapat perhatian pemerintah, meskipun kenaikan harga secara nasional relatif terbatas.

BPS menempatkan beras dalam kelompok komoditas dengan level harga tinggi, sementara perubahan IPH-nya relatif rendah.

Sementara untuk harga minyak goreng (migor), BPS mencatat harga rata-rata minyak goreng di pasar rakyat pada minggu pertama Agustus 2026 berada di kisaran Rp20.229 per liter dan secara umum turun tipis 0,04% dibandingkan Juli 2026.

Meski mengalami penurunan secara bulanan, level harganya masih tergolong tinggi dan berada di atas harga acuan penjualan (HAP).

BPS mencatat 82 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH minyak goreng hingga minggu pertama Agustus 2026. Harga tertinggi yang tercatat mencapai sekitar Rp60.000 per liter di Kabupaten Intan Jaya.

Dengan demikian, penurunan tipis secara nasional belum serta-merta berarti persoalan harga minyak goreng selesai, terutama karena masih terdapat daerah dengan harga yang sangat tinggi.

Bawang Putih Mulai Turun

Berbeda dengan beras dan minyak goreng, perkembangan harga bawang putih menunjukkan perbaikan. BPS mencatat harga rata-rata bawang putih pada minggu pertama Agustus 2026 mencapai Rp39.924 per kg, turun 4,95% dibandingkan Juli 2026.

Jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH bawang putih juga turun tajam. Dari sebelumnya 248 kabupaten/kota, kini tinggal 50 kabupaten/kota yang tercatat mengalami kenaikan IPH bawang putih.

Amalia mengatakan, kondisi bawang putih saat ini sudah jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya.

"Jadi ini tinggal PR-nya sudah jauh relatif lebih baik, jauh lebih kecil PR-nya karena kalau kita lihat angka impor bawang putih juga," sebut Amalia.

Meski begitu, harga bawang putih secara nasional masih berada di atas HAP Rp38.000 per kg. BPS mencatat beberapa daerah masih memiliki harga yang cukup tinggi, seperti Kabupaten Manokwari Selatan yang mencapai Rp63.750 per kg, Kabupaten Paniai Rp68.750 per kg, serta Kabupaten Kaimana Rp53.000 per kg.

Amalia mengatakan, pasokan bawang putih secara nasional semestinya cukup memadai karena impor sepanjang semester I-2026 sudah relatif besar.

"Nah ini sudah terus turun kalau kita lihat secara kumulatif sudah relatif banyak. Dan impor bawang putih selama satu semester 2026 ini sudah 229.000 ton. Jadi hampir 230.000 ton dan ini tentunya secara pasokan harusnya memadai," ujarnya.

Impor Bawang Putih Hampir 230 Ribu Ton

Data BPS menunjukkan impor bawang putih sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 229,76 ribu ton. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 178,89 ribu ton.

Sebagian besar impor tersebut berasal dari China. Pada semester I-2026, impor bawang putih dari China mencapai 225,57 ribu ton atau 98,18% dari total impor.

India menjadi negara asal impor terbesar kedua dengan volume sekitar 4,18 ribu ton atau 1,82%.

"Seperti biasa 98% impor kita berasal dari Tiongkok lalu yang kedua dari India," kata Amalia.

Amalia menambahkan, jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga bawang putih kini jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Karena itu, bawang putih dinilai relatif lebih terkendali meskipun masih terdapat sejumlah titik yang perlu mendapat perhatian.

Dengan perkembangan tersebut, BPS melihat tekanan harga pangan pada awal Agustus 2026 tidak seragam. Beras dan minyak goreng masih perlu dicermati karena level harganya relatif tinggi, sedangkan bawang putih mulai menunjukkan tren penurunan dan tekanan kenaikan harga di daerah juga semakin menyempit.

Tangkapan layar dari paparan BPS dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (10/8/2026). (Dok.Kemendagri)_ Foto: Tangkapan layar dari paparan BPS dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (10/8/2026). (Dok.Kemendagri)_


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Tingkat Pengangguran RI Turun Jadi 7,22 Juta Orang Per Mei 2026