Internasional

Trump Tutup Kantor Konsulat AS di RI, Ada Apa?

tfa, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 20:00 WIB
Foto:Ilustrasi kantor konsulat AS (REUTERS/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) berencana menutup lima konsulat dan misi diplomatik di sejumlah negara, termasuk Konsulat AS di Medan, Indonesia. Kebijakan yang diambil pemerintahan Presiden Donald Trump ini memicu kritik karena dinilai berpotensi membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruh diplomatiknya di berbagai kawasan.

Anggota senior Partai Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Jeanne Shaheen, menilai keputusan tersebut justru menguntungkan Beijing. Ia menambahkan, biaya operasional misi-misi tersebut relatif kecil dibandingkan anggaran Departemen Luar Negeri sehingga mempertanyakan manfaat penutupan itu.

"China memiliki kehadiran diplomatik di tiga dari lima lokasi tempat Departemen Luar Negeri akan menutup kantornya, dan Beijing akan memanfaatkan kekosongan baru tersebut untuk melemahkan kepentingan Amerika," ujar Shaheen, seperti dikutip Guardian, Kamis (6/8/2026).


Departemen Luar Negeri AS telah menyampaikan pemberitahuan kepada Kongres mengenai rencana penutupan misi di St. George's (Grenada), Nagoya (Jepang), Medan (Indonesia), Douala (Kamerun), dan Winnipeg (Kanada). Langkah tersebut merupakan bagian dari evaluasi hubungan bilateral serta upaya efisiensi anggaran sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden pada Januari 2025.

Penutupan ini juga menjadi kelanjutan dari restrukturisasi besar yang dipimpin Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Tahun lalu, Departemen Luar Negeri memangkas lebih dari 1.300 pegawai, terdiri dari 246 diplomat karier dan 1.107 pegawai sipil.

Di sisi lain, American Foreign Service Association mencatat lebih dari separuh dari 195 posisi duta besar AS di berbagai negara masih belum terisi, termasuk di Jerman, Mesir, Arab Saudi, Pakistan, dan Kuba. Shaheen kembali menegaskan bahwa penarikan kehadiran diplomatik AS berisiko mengurangi pengaruh Washington di kawasan strategis.

"Apakah sepadan untuk menarik diri dari tempat-tempat di mana China hadir?" katanya.

Rencana penutupan Konsulat AS di Winnipeg juga menuai kritik di Kanada. Mantan spesialis politik konsulat tersebut, Brad Kirbyson, menilai penghematan anggaran tidak sebanding dengan hilangnya jaringan diplomatik di wilayah tengah Kanada.

"Langkah ini mungkin menghemat biaya, tetapi dampak keseluruhannya adalah hilangnya hubungan dengan wilayah Kanada yang luas akibat tidak adanya kehadiran fisik di sana," ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya masih menjalankan proses pemberitahuan kepada Kongres sesuai prosedur.

"Kami berfokus untuk memastikan kehadiran diplomatik kami efisien, efektif, dan memberikan hasil nyata bagi rakyat Amerika," katanya, seraya menegaskan belum ada informasi tambahan yang dapat disampaikan.

Rencana penutupan lima misi tersebut disebut masih menjadi bagian awal dari agenda efisiensi pemerintahan Trump. Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih bahkan mengusulkan penutupan hingga 30 misi diplomatik di luar negeri.

Usulan itu ditentang Partai Demokrat dan sejumlah pakar kebijakan luar negeri karena dinilai dapat melemahkan pengaruh global AS, terutama setelah pembubaran lembaga bantuan luar negeri USAID yang kemudian dilebur ke dalam Departemen Luar Negeri.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Mau Hajar China, Tapi Malah Terjebak Perang Iran