Media Asing: Perang Tarif Trump Berkah ke RI, Pulau Ini Jadi "Surga"
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut membawa berkah bagi Indonesia. Media asing melaporkan Pulau Batam kini menjelma menjadi salah satu "surga" manufaktur baru di Asia Tenggara setelah gelombang perang dagang AS-China mendorong perusahaan-perusahaan global memindahkan produksinya dari China.
Laporan The Business Times yang melansir Bloomberg menyebut Batam yang selama puluhan tahun kurang diperhitungkan investor global kini mulai masuk peta manufaktur dunia. Penyebab utamanya adalah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China yang kembali memanas pada masa pemerintahan kedua Trump.
Salah satu perusahaan yang sudah mengambil langkah tersebut adalah produsen mainan asal China, Dongguan Welson Plastic Hardware Products, pemasok berbagai produk untuk Disney dan Crayola. Pada Juli lalu, perusahaan itu membuka pabrik pertamanya di luar China, tepatnya di Batam.
General Manager Welson, Andy Yao, mengungkapkan keputusan itu diambil karena perusahaan harus mengurangi ketergantungan terhadap China. "Kalau kami tetap di China, kami berisiko kehilangan pesanan," ujarnya di muat dalam artikel berjudul "Trump trade war puts Indonesia's Batam on global factory map".
Menurut Yao, tarif "Liberation Day" yang diumumkan Trump pada April 2025 membuat banyak pelanggan mendesak perusahaan untuk mendiversifikasi rantai pasok mereka. Selain itu, biaya produksi di China juga terus meningkat.
Awalnya Batam bahkan tidak masuk dalam daftar tujuan perusahaan. Namun setelah melakukan survei ke Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam, Welson akhirnya memilih Batam karena lokasinya yang hanya sekitar 40 menit perjalanan feri dari Singapura, memiliki tenaga kerja muda dalam jumlah besar, serta menikmati berbagai insentif kawasan perdagangan bebas.
Status free trade zone membuat perusahaan memperoleh pembebasan pajak atas impor bahan baku dan mesin, sementara produk ekspor juga bebas bea keluar. Sejak Trump pertama kali menjabat pada 2017, ekspor Batam telah melonjak lebih dari dua kali lipat hingga mencapai sekitar US$19,6 miliar pada 2025.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi nasional, Batam justru tampil sebagai salah satu motor pertumbuhan Indonesia. Pada 2025, ekonomi Batam tumbuh 6,8%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional sebesar 5,1%. Pada kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan Batam juga mencapai 5,8%, sedikit di atas angka nasional sebesar 5,6%.
Gelombang investasi pun terus berdatangan. Apple telah membangun pabrik AirTag di Batam yang kini memproduksi sekitar 70% pasokan AirTag dunia. Selain itu, Oracle, Gaw Capital Advisors, hingga Firmus Technologies bersama Nvidia juga berinvestasi membangun pusat data di kawasan tersebut.
Pemerintah Indonesia juga berupaya mempercepat transformasi Batam menjadi pusat industri dan logistik internasional. Presiden Prabowo Subianto pada Juli lalu membahas percepatan pembangunan Batam, termasuk pengembangan pelabuhan internasional guna meningkatkan daya saing ekspor.
Meski harus bersaing dengan Malaysia, Thailand, dan Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura, pelaku industri meyakini momentum Batam masih akan berlanjut. Bahkan, salah satu pengembang kawasan industri di Batam menilai Trump mungkin tidak menyadari bahwa kebijakan perdagangannya justru ikut mengangkat posisi Batam di mata investor global.
"Saya rasa Trump tidak menyadari bahwa ia mungkin telah mempercepat kebangkitan Batam. Bukan hanya Batam, tetapi sebagian besar Asia Tenggara mendapat manfaat dari pergeseran rantai pasok global. Tren ini akan terus berlanjut," demikian dikutip The Business Times.
(sef/sef)