Lulusan SMK Susah Cari Kerja? Coba Ikut Program Kementerian P2MI Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Peluang kerja bagi lulusan SMK di luar negeri masih terbuka lebar. Malaysia, Jepang, Taiwan, Hong Kong, Jerman, Turki hingga sejumlah negara di kawasan Eropa saat ini membutuhkan tenaga kerja Indonesia untuk berbagai sektor, mulai dari caregiver, manufaktur, welder, konstruksi, transportasi, hospitality, perawat (nurse), agrikultur hingga wellness therapist.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) meluncurkan program Asta Mandala SMK Go Global, yang ditujukan untuk menyiapkan lulusan SMK dan masyarakat umum agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri di negara tujuan.
Menteri P2MI Mukhtarudin mengatakan, pelatihan dalam program tersebut tidak dilakukan secara umum, melainkan berdasarkan permintaan tenaga kerja yang telah diajukan negara penempatan. Dengan begitu, peserta yang lulus diharapkan langsung terserap ke pasar kerja internasional.
"Jadi mekanismenya, ada dulu pasarnya, ada dulu negara penempatan dan sektornya, dibutuhkan kompetensi seperti apa baru dilatih seperti apa. Jadi latih, kompeten, tempatkan. Sehingga KPI-nya adalah penempatan, bukan hanya pelatihan," kata Mukhtarudin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah terlebih dahulu memetakan kebutuhan tenaga kerja melalui job order (JO) yang telah diverifikasi oleh perwakilan Indonesia di masing-masing negara penempatan. Setelah kebutuhan kompetensi diketahui, barulah peserta diberikan pelatihan yang sesuai.
"Jadi sudah ada ordernya. Nah ordernya sudah ada, dibutuhkan kompetensi seperti apa baru kita latih seperti apa," ujarnya.
Mukhtarudin mengungkapkan, negara yang saat ini paling banyak membutuhkan pekerja migran Indonesia antara lain Malaysia, Taiwan, Jepang, Hong Kong, Turki, Jerman, hingga sejumlah negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah.
"Negara yang paling banyak adalah negara Malaysia, Taiwan, Jepang termasuk juga Hongkong ya, dan beberapa negara Eropa termasuk Turki dan Jerman, kemudian ada di Asia seperti ada di Maladewa ya untuk yang wellness therapists. Jadi sebagian besar Asia, Eropa dan Timur Tengah juga ada, tapi (permintaannya) yang formal, yang hospitality, nurse itu ada ke daerah Timur Tengah," ungkap dia.
Pendaftaran Dibuka 12 Agustus 2026
Mukhtarudin mengatakan, masyarakat yang berminat mengikuti program Asta Mandala SMK Go Global sudah bisa mendaftar mulai 12 Agustus 2026. Pendaftaran dilakukan melalui balai-balai Kementerian P2MI yang tersebar di 23 provinsi.
"Tanggal 12 Agustus sudah mulai pendaftaran. Jadi sekarang sudah publikasi oleh seluruh balai-balai kita yang ada di 23 provinsi," katanya.
Ia menjelaskan, program ini diprioritaskan bagi lulusan SMK dan masyarakat umum yang ingin bekerja di luar negeri. Pada tahap awal, pemerintah menerapkan skema upskilling, yakni meningkatkan kompetensi peserta yang telah memiliki kemampuan dasar sesuai bidang pekerjaannya.
"Karena ini sifatnya quick win jadi kita mulainya upskilling. Jadi tidak dari nol. Jadi bukan yang orang yang belum punya background skill tertentu. Misalnya dia sudah punya skill welder, tinggal dia belum bahasanya, bahasanya dan sertifikasinya. Ada yang mungkin sudah skill bahasa, tinggal teknisnya. Jadi memang kita profiling sesuai dengan dari peserta itu sudah kita breakdown ketika rekrutmen, itu pesertanya apa yang sudah dimiliki kemampuannya, skill dasarnya apa, bahasa apa yang sudah dikuasai kemudian punya sertifikasi apa belum," jelas Mukhtarudin.
Pelatihan yang diberikan meliputi tiga komponen utama, yakni peningkatan kemampuan teknis, pembelajaran bahasa asing sesuai negara tujuan, dan sertifikasi kompetensi.
"Kegiatannya berkapasitas itu ada yang dilatih secara teknis, kemudian bahasa dan sertifikasi. Jadi ada tiga macam: nanti bahasa, teknis, sertifikasi," ujarnya.
Menurut dia, pelatihan tersebut tidak menjadi bagian dari kurikulum pendidikan formal di SMK maupun perguruan tinggi. Program ini dirancang sebagai pelatihan tambahan agar peserta memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan industri global.
"Kita tidak mengaitkan dengan kurikulum yang ada di Dikdasmen maupun di Dikti. Jadi itu beda tersendiri. Jadi ini lebih sifatnya adalah penguatan segi teknis, bahasa dan sertifikasi. Jadi tidak dimasukkan dalam kurikulum, karena ini programnya program jangka pendek ya, quick win," kata dia.
Ini Syaratnya
Mukhtarudin mengatakan, calon peserta juga harus memiliki komitmen untuk bekerja di luar negeri. Karena itu, sejak awal peserta diwajibkan membuat surat pernyataan bersedia bekerja di luar negeri dan memperoleh izin dari orang tua.
"Yang tidak kalah penting adalah pernyataan bahwa bersedia bekerja di luar negeri, karena targetnya memang untuk ke luar negeri. Jadi memang dari awal ada pernyataan tertulis izin orang tuanya sudah dari awal, kemudian pernyataan bersedia bekerja ke luar negeri itu sudah dari awal, sehingga dia tahu ikut pelatihan ini adalah untuk bekerja di luar negeri," ujarnya.
Ia menambahkan, mulai 2027 pelatihan akan dilaksanakan secara reguler sehingga peserta yang belum memiliki kemampuan dasar juga dapat mengikuti program tersebut dengan durasi pelatihan lebih panjang, sekitar enam hingga tujuh bulan.
Mukhtarudin memastikan seluruh pelatihan hingga sertifikasi diberikan tanpa dipungut biaya karena dibiayai melalui APBN.
"Semuanya dibiayai oleh APBN, gratis. Jadi semuanya tidak dipungut biaya untuk peningkatan kapasitas pelatihan ini sampai sertifikasinya. Mulai dari pelatihan teknisnya, bahasanya, sertifikasinya itu dibiayai oleh APBN. Jadi semuanya free, semuanya gratis bagi calon pekerja migran yang siap bekerja ke luar negeri yang harus ditingkatkan kapasitasnya," pungkasnya.
(wur) [Gambas:Video CNBC]