Awas Hujan Lebat-Banjir Landa Wilayah RI, Begini Warning Terbaru BMKG
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai potensi hujan lebat yang dapat memicu banjir di sejumlah wilayah Indonesia pada sepekan ke depan, meski musim kemarau semakin mendominasi.
Melansir unggahan Instagram resmi @infobmkg, BMKG menyebut cuaca pada periode 4-10 Agustus 2026 secara umum didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah daerah. Informasi tersebut juga dimuat dalam prakiraan cuaca sepekan BMKG yang diperbarui pada 3 Agustus 2026.
Untuk periode 4-7 Agustus 2026, BMKG menetapkan status Waspada (Hujan Sedang-Lebat) bagi Aceh, Sumatra Utara, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Sementara pada periode 8-10 Agustus 2026, wilayah yang berstatus Waspada (Hujan Sedang-Lebat) meliputi Aceh, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang pada 4-7 Agustus di Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Sedangkan pada 8-10 Agustus, potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Aceh, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Di sisi lain, BMKG mengungkapkan kondisi kering masih terus berlanjut dan diperkirakan semakin meluas pada awal Agustus. Hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III Juli 2026 menunjukkan sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami HTH sangat panjang selama 31-60 hari, sementara 306 titik pengamatan lainnya mengalami HTH ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari.
Wilayah dengan HTH sangat panjang hingga ekstrem tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi. Durasi HTH terpanjang mencapai 90 hari yang tercatat di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.
BMKG menyampaikan, meningkatnya dampak musim kemarau juga terlihat dari sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Bahkan, sebaran asap dari Kalimantan Barat diperkirakan berpotensi melintasi perbatasan menuju Sarawak, Malaysia.
Meski demikian, hujan lebat masih tercatat di sejumlah wilayah pada periode 30 Juli-2 Agustus 2026, yakni Aceh 164,3 mm/hari, Sumatra Utara 144 mm/hari, Sumatra Barat 102,5 mm/hari, Kepulauan Riau 97 mm/hari, dan Kalimantan Utara 59 mm/hari. Kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta anomali OLR negatif yang masih mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.
BMKG juga mencatat perkembangan iklim global masih mendukung berlanjutnya cuaca kering. Nilai indeks Nino 3,4 sebesar +2,45 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -29,2 mengindikasikan El Nino kuat masih berlangsung dan berpotensi menguat, sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) sebesar +0,44 menunjukkan kecenderungan menuju fase positif. Kombinasi fenomena tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering dengan menjaga kecukupan cairan, menghemat penggunaan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Di saat yang sama, masyarakat juga diminta tetap mewaspadai potensi hujan lokal yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang, termasuk risiko pohon tumbang, baliho roboh, genangan, serta sambaran petir.
Waspada Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Pesisir Indonesia
Selain potensi hujan lebat, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir pesisir (rob) di sejumlah wilayah Indonesia pada Agustus 2026. Melansir unggahan Instagram resmi @bmkgmaritim dan @infobmkg, fenomena fase Bulan Perigee pada 10 Agustus 2026 serta Bulan Purnama pada 13 Agustus 2026 diperkirakan meningkatkan ketinggian muka air laut maksimum sehingga memicu banjir rob di sejumlah wilayah pesisir.
BMKG menjelaskan, potensi banjir pesisir tersebut dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan kawasan pesisir, mulai dari kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di permukiman pesisir, hingga kegiatan tambak garam dan perikanan darat.
Berdasarkan pemantauan data water level dan prediksi pasang surut, potensi banjir rob diperkirakan terjadi di pesisir Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, dan Maluku.
Adapun wilayah yang berpotensi terdampak antara lain pesisir Medan Belawan, Medan Labuhan, dan Medan Marelan di Sumatra Utara pada 4 Agustus serta 11-17 Agustus 2026. Di Sumatra Barat, potensi rob diprakirakan terjadi di pesisir Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Agam, Pasaman Barat, hingga Kepulauan Mentawai pada 10-16 Agustus 2026.
Di wilayah Jabodetabek, banjir rob berpotensi terjadi di Muara Angke, Penjaringan pada 6-13 Agustus 2026, kawasan pesisir utara Tangerang di Banten pada 10-13 Agustus 2026, serta pesisir Kabupaten Bekasi dan Karawang pada 6-13 Agustus 2026. Sementara itu, pesisir selatan Jawa Barat diprakirakan terdampak pada 4-7 Agustus dan 12-17 Agustus 2026.
Potensi serupa juga diperkirakan terjadi di pesisir Kota Semarang, Demak, Pekalongan, Batang, Kendal, dan Jepara pada 9-15 Agustus 2026, pesisir timur Surabaya pada 11-13 Agustus 2026, Pelabuhan Surabaya pada 10-13 Agustus 2026, serta Banyuwangi pada 11-15 Agustus 2026.
Di Bali, banjir rob berpotensi terjadi di pesisir selatan yang meliputi Gianyar, Badung, Denpasar, Tabanan, Klungkung, dan Jembrana pada 11-17 Agustus 2026. Sementara di Nusa Tenggara Barat, potensi rob diperkirakan terjadi di pesisir Lembar dan Bima pada 4-15 Agustus 2026, sedangkan di Nusa Tenggara Timur meliputi Pulau Sumba, Flores-Alor, Timor-Rote, hingga Sabu-Raijua pada 8-15 Agustus 2026.
BMKG juga memprakirakan banjir rob terjadi di sejumlah wilayah pesisir Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku dengan waktu yang berbeda-beda sepanjang Agustus 2026. Di antaranya pesisir Tarakan, Barito Kuala, Banjarmasin, Tanah Laut, Kotabaru, Tanah Bumbu, Kuala Jelai, Sampit, Kapuas, bantaran Sungai Kapuas, Kepulauan Sangihe, Bolaang Mongondow, Manado, Polewali Mandar, Majene, Mamuju, Ambon, Maluku Tengah, Seram Timur, Kepulauan Kai, Kepulauan Aru, hingga Kepulauan Tanimbar.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di kawasan pesisir, agar tetap waspada dan siaga mengantisipasi dampak pasang maksimum air laut.
Masyarakat pun disarankan terus memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, maupun media sosial @infobmkg.
(dce)