El Nino OTW Sangat Kuat, Kepala BMKG Kasih Peringatan Begini
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino di Indonesia kini telah memasuki kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau pada Agustus hingga September lebih kering dan lebih panjang, sehingga meningkatkan risiko kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah selatan Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, BMKG sebenarnya telah mengantisipasi kondisi tersebut sejak Maret 2026, saat lembaga itu memprediksi Indonesia akan mengalami musim kemarau yang bertepatan dengan El Nino berkategori moderat. Seiring perkembangan kondisi, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni 2026 menetapkan El Nino telah aktif, sementara hasil pemantauan BMKG menunjukkan intensitasnya kini meningkat menjadi kuat.
"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat. Ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di 3.4 dan kita tidak hanya menggunakan data dasarian bulan Juli saja, tapi kita menggunakan periode Mei-Juni-Juli untuk menunjukkan bahwa El Ninonya dengan intensitas plus 1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," ujar Faisal dalam paparannya di acara Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan El Nino merupakan fenomena iklim global yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuatorial bagian tengah hingga timur. Ketika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, fenomena tersebut menyebabkan curah hujan berkurang sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
"Ini perlu saya tekankan bahwa El Nino dengan kemarau itu adalah dua fenomena yang berbeda, yang terpisah. Kita tetap akan mengalami musim hujan dan musim kemarau, tapi yang perlu kita waspadai kalau musim kemarau bertepatan dengan El Nino," katanya.
Menurut BMKG, periode paling kritis diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September ketika curah hujan di sebagian besar wilayah berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Pengaruh El Nino diperkirakan mulai berkurang setelah Indonesia memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober.
"Di bulan Agustus, September, itu hujan rendah, sampai sangat rendah. Lalu di bulan Oktober, pertengahan Oktober, kita mulai masuk musim hujan, maka El Nino menjadi tidak signifikan di Indonesia," ucapnya.
Wilayah yang paling terdampak adalah daerah di selatan garis khatulistiwa, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Pulau Jawa terutama wilayah pesisir, Sumatra bagian selatan, hingga Papua Selatan.
"Yang sangat signifikan dipengaruhi El Nino adalah daerah Indonesia di bawah garis khatulistiwa atau bagian selatan Indonesia. Itulah daerah yang akan mengalami musim kering, musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang periodenya dibanding rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir," jelas dia.
BMKG mengingatkan dampak El Nino tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, energi, kesehatan, kelautan, hingga perekonomian masyarakat. Karena itu, koordinasi lintas kementerian dan lembaga telah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir.
Untuk mengantisipasi kekeringan, BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum juga tengah melakukan operasi modifikasi cuaca guna mengisi waduk-waduk yang mengalami kekeringan, termasuk untuk menjaga pasokan air baku, irigasi, serta pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Di sisi lain, BMKG juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan meningkat selama puncak musim kemarau.
"Kemudian sektor kehutanan potensi kebakaran hutan dan lahan meningkat sehingga di situ menurunkan kualitas udara. Sektor energi juga debit air di PLTA dapat berkurang sehingga mempengaruhi pasokan listrik. Ini juga kita lakukan dengan pengisian waduk. Sementara sektor kesehatan ada gangguan kesehatan dan penyakit yang terjadi sehingga kita perlu menyiapkan langkah-langkah antisipasi," kata Faisal.
Ia menambahkan, pemerintah kini mengedepankan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko karhutla, berbeda dengan pendekatan yang diterapkan saat El Nino kuat pada 2015 lalu.
"Kalau dulu kita hanya menunggu terbakar kemudian kita padamkan, tapi sekarang kita coba sebelum terbakar, Kementerian Lingkungan Hidup memiliki data fluktuasi muka air di tanah gambut. Kalau kurang dari 1 meter maka BMKG bekerja sama dengan BNPB itu melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menaikkan muka air, menjenuhkan tanah sehingga lebih sulit untuk terbakar," ujarnya.
Faisal juga menegaskan, kesiapsiagaan pemerintah menghadapi El Nino bukan baru dimulai setelah rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto pekan lalu, melainkan telah dilakukan sejak BMKG mengeluarkan prediksi pada Maret 2026.
"Jadi di sini untuk meluruskan, bahwa persiapan kita bukan dimulai sejak rapat minggu lalu yang dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, itu adalah kelanjutan dari koordinasi yang telah dilaksanakan sejak berbulan-bulan yang lalu," pungkasnya.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat menyampaikan paparannya di acara Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat menyampaikan paparannya di acara Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) |
