Trump Beri Ultimatum Baru ke Iran: Pilih Kesepakatan atau 'Dipenggal'!
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Senin waktu setempat menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran masih terus berlangsung, meskipun pihak Teheran melontarkan bantahan keras. Trump menegaskan bahwa Republik Islam tersebut kini tengah menghadapi "kesempatan terakhir sebelum pemenggalan".
Saat berbicara kepada para wartawan di Gedung Putih, Trump menyebutkan bahwa ia sepakat untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran atas permintaan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan negara-negara lainnya. Walaupun Kementerian Luar Negeri Iran membantah terjadinya negosiasi dengan Washington, Trump bersikeras bahwa pembicaraan tersebut memang sedang berlangsung.
"Kami sedang berbicara saat ini," ungkap Trump sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (4/8/2026). "Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang baik. Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan".
Pembicaraan antara kedua belah pihak difokuskan pada upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menurut Trump dapat terjadi "secara harfiah besok", serta proses denuklirisasi Iran yang dinilai akan "memakan waktu sedikit lebih lama". Washington dan Teheran telah berada dalam status perang sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran, meskipun diplomasi yang terputus-putus selama beberapa bulan terakhir telah menghasilkan periode yang relatif tenang.
Lebih dari lima bulan kemudian, Iran dilaporkan masih mempertahankan kemampuannya untuk menembakkan rudal dan pesawat nirawak ke target-target milik AS maupun sekutunya di wilayah tersebut, serta masih menguasai timbunan uranium yang telah diperkaya.
Selat Hormuz dan Bantahan Teheran
Selat Hormuz telah menjadi salah satu poin kebuntuan utama dalam berbagai upaya untuk mengakhiri perang ini. Setelah kesepakatan gencatan senjata gagal, Iran kembali menerapkan blokade di jalur perairan tersebut, sebuah tindakan yang pertama kali mereka berlakukan di awal peperangan dengan menghalangi kapal-kapal yang melintas dan menembaki kapal-kapal komersial.
Sebelum perang pecah, terdapat kebebasan melintas melalui Selat Hormuz, namun kini Iran bersikeras untuk mempertahankan kendali dan memungut biaya, sebuah langkah yang secara tegas ditolak oleh Amerika Serikat. Teheran juga menolak mengizinkan kapal untuk menggunakan rute pelayaran lain selain rute yang menyusuri garis pantai Iran.
Trump menyebut pihak Teheran "bermuka dua" karena secara terbuka dan bangga menyatakan bahwa mereka tidak bernegosiasi. Melalui platform media sosial, Trump menulis bahwa AS pada faktanya sedang membicarakan solusi atas masalah yang telah ditimbulkan oleh Iran selama beberapa dekade, terlepas dari apakah Iran mau mengakuinya atau tidak.
Tidak ada yang bisa masuk ke Iran, kecuali kita menginginkannya, dan tidak ada yang akan bisa masuk, kecuali sebuah Kesepakatan, atau Penyerahan Total, dicapai".
Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa pihaknya saat ini tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan, "Negosiasi kami adalah dengan Oman untuk mengamankan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz".
"Kesepahaman mengenai rute yang dapat diterima kedua belah pihak sudah hampir tercapai bersama Oman," tambah Baqaei.
Rute tersebut diharapkan dapat menghormati hak-hak kedaulatan serta menjaga kepentingan nasional dan keamanan kedua belah pihak, meskipun ia menegaskan bahwa kesepakatan semacam itu tidak berarti pembukaan kembali selat secara penuh.
Terkait isu nuklir, Trump menegaskan kembali pada hari Senin bahwa perang ini diperlukan untuk menangani program nuklir Iran dan bahwa "denuklirisasi Iran harus terjadi". Negara-negara Barat selama ini menuduh Iran berupaya mengembangkan bom nuklir, meskipun Teheran terus berkeras bahwa program mereka sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan sipil.
(tps/tps)