Perkuat Konsolidasi, Danantara Kebut Restrukturisasi Portofolio BUMN
Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya restrukturisasi secara menyeluruh terus dilakukan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia. Hal ini ditujukan untuk mempercepat transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di Tanah Air.
Agenda restrukturisasi ini dilakukan melalui perampingan jumlah BUMN, mengonsolidasikan sejumlah sektor strategis, hingga mengarahkan investasi pada proyek hilirisasi nasional. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, daya saing, dan kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Restrukturisasi portofolio BUMN menjadi salah fokus utama Danantara, yang diwujudkan melalui merger, konsolidasi, divestasi, dan pembubaran apabila tidak lagi memiliki nilai strategis. Tujuannya adalah membuat jumlah BUMN lebih ramping namun memiliki skala usaha yang lebih besar.
Asal tahu saja, dalam 18 bulan pertama transformasi, Danantara sukses memangkas 250 BUMN dari total 1.077 BUMN lewat proses merger dan lain-lain. Upaya penutupan 250 BUMN tersebut dapat menghemat anggaran sekitar Rp 50 triliun.
Selanjutnya, Danantara mengarahkan investasinya pada proyek-proyek strategis nasional yang berfokus pada hilirisasi, ketahanan energi, pangan, hingga pengelolaan sumber daya alam. Hal ini dibuktikan melalui realisasi 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan total nilai investasi mencapai Rp 225 triliun. Proyek-proyek ini diperkirakan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja, sehingga dapat memperkuat hilirisasi sebagai salah satu motor penciptaan lapangan kerja sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Agenda hilirisasi ini dilaksanakan dalam dua tahap, yakni Fase I yang dimulai melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026 mencakup proyek senilai Rp109 triliun dengan potensi penyerapan 11.456 tenaga kerja. Sedangkan, Fase II dimulai pada 29 April 2026, menghadirkan investasi Rp116 triliun dengan potensi menyerap 26.377 tenaga kerja.
Pada dasarnya, 26 proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari industri pengolahan mineral seperti smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, hingga sektor energi dan pangan melalui pembangunan fasilitas bioavtur, bioetanol, pengolahan sawit, kelapa, serta peternakan ayam terintegrasi.
Di samping itu, transformasi juga dilakukan Danantara di sektor keuangan lewat penguatan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Melalui skema ini, treasury di Himbara akan diperkuat menjadi divisi tersendiri bukan lagi unit bisnis biasa.
Beralih ke sektor perkebunan, Danantara melakukan restrukturisasi dalam skala besar di Grup PTPN melalui pembentukan tiga pilar utama, yakni PalmCO, SugarCo, dan SupportingCo. Restrukturisasi ini secara keseluruhan memangkas jumlah entitas anak usaha dari 65 menjadi 18 perusahaan, yang secara efektif memotong rantai birokrasi dan memusatkan fokus pada bisnis inti.
Transformasi juga dilakukan oleh InJourney berfokus pada penyatuan ekosistem pariwisata BUMN dalam satu holding terintegrasi. Perseroan mengonsolidasikan bisnis bandara, pengelolaan destinasi wisata, hotel, layanan aviasi, hingga ritel dan pendukung pariwisata agar tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Tak ketinggalan, Danantara juga membentuk holding logistik nasional melalui penggabungan tujuh entitas logistik BUMN. Ketujuh entitas tersebut meliputi PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Prima Indonesia Logistik (PIL) dari Pelindo Group, PT Pos Logistik Indonesia (POSLOG), PT Sarana Bandar Logistik (SBL), PT KBN Prima Logistik (KPL), PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS), serta PT Krakatau Jasa Logistik (KJL).
Konsolidasi perusahaan logistik BUMN berpotensi melahirkan holding logistik terbesar milik negara di Indonesia, dengan jaringan layanan yang mencakup pelabuhan, pergudangan, distribusi, logistik industri, hingga pengiriman nasional.
Di sektor energi, Danantara mengawal konsolidasi tiga entitas utama Pertamina yakni PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Ini merupakan ekosistem hilir migas terbesar di Indonesia yang mengintegrasikan kilang, logistik, distribusi, hingga pemasaran energi. Melalui konsolidasi tiga entitas utama, Pertamina juga membangun salah satu ekosistem hilir migas paling terintegrasi di Asia Tenggara, dari kilang hingga distribusi energi.
Berikutnya, dari sektor transportasi, Danantara memberi mandat ke KAI dan INKA pada 18 Mei 2026 untuk due diligence dan kajian integrasi. Target akuisisi INKA ditandatangani November 2026. Hal ini membuat KAI sebagai operator memiliki kontrol lebih kuat atas rantai pasok kereta. INKA jadi subholding/manufaktur, sehingga kebutuhan armada bisa direncanakan jangka panjang.
Selain itu, Danantara mendorong konsolidasi maskapai pelat merah dengan menempatkan Garuda Indonesia sebagai holding penerbangan nasional. Dalam skema tersebut, Pelita Air akan menjadi bagian integral dari Garuda Group guna memperkuat daya saing industri penerbangan nasional.
Danantara juga mengawal merger BUMN Karya yaitu Hutama Karya, Waskita, WIKA, ADHI, PTPP, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya. Tujuannya mengurangi tumpang tindih, bikin skala lebih besar, dan mencegah sesama BUMN melakukan perebutan proyek yang sama.
Di sisi lain, Danantara terus memperkuat posisi Danareksa (Persero) sebagai pengelola konsolidasi seluruh kawasan industri milik BUMN. Langkah ini berpotensi menambah lebih dari 13.000 hektare lahan kelolaan dan menjadikan Danareksa sebagai pengelola kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Transformasi tersebut meliputi pengembangan tujuh kawasan industri, optimalisasi aset, penataan entitas non-inti, serta penguatan pendapatan berulang dari sektor utilitas, infrastruktur, dan properti.
Lebih jauh, transformasi Pupuk Indonesia berfokus pada perubahan dari produsen pupuk menjadi agro-solution company. Perseroan tak lagi hanya memproduksi dan mendistribusikan pupuk, tetapi juga menyediakan benih, pestisida, pendampingan petani, pembiayaan, hingga akses pemasaran hasil panen.
Di sektor pangan, RNI menjadi salah satu BUMN yang paling mengalami transformasi setelah menjadi holding ID FOOD. Sebelum menjadi holding pangan, RNI dikenal memiliki bisnis yang sangat beragam, mulai dari perdagangan, farmasi, perkebunan, gula, hingga properti.
Sementara itu, Danantara bersama PT Sucofindo sepakat memperkuat kerja sama untuk mencegah kerugian negara akibat praktik under-invoicing yang telah berlangsung lama. Dalam kolaborasi ini, Sucofindo akan memperkuat perannya sebagai verifikator independen guna memastikan transparansi dan akuntabilitas nilai transaksi ekspor.
Tidak berhenti disana, PT Danantara Asset Management (DAM) telah mengakuisisi empat manajer investasi BUMN, yakni Mandiri Manajemen Investasi, BRI Manajemen Investasi, BNI Asset Management, dan PNM Investment Management, dengan total dana kelolaan (AUM) lebih dari Rp170 triliun per Juni 2026. Konsolidasi ini ditujukan untuk memperkuat tata kelola, memperluas akses investasi bagi investor ritel dan institusi, serta meningkatkan daya saing industri manajemen investasi nasional.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria menuturkan, pengambilalihan pengendalian empat perusahaan tersebut bukan sekadar transaksi pembelian saham, melainkan langkah besar untuk membangun kekuatan baru dalam industri manajemen investasi nasional.
"Ini merupakan langkah besar untuk memperkuat industri manajemen investasi nasional. Keempat perusahaan ini memiliki pengalaman, jaringan, dan kapabilitas yang kuat, serta secara kolektif mengelola dana lebih dari Rp170 triliun. Danantara Indonesia akan memastikan seluruh kekuatan tersebut diarahkan melalui strategi dan tata kelola yang semakin baik agar mampu tumbuh lebih kuat, lebih kompetitif, dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia," ujar Dony dalam keterangan resminya, Kamis (23/7/2026).
Dony melanjutkan, dalam satu bulan ke depan, keempat perusahaan manajemen aset ini akan melakukan merger menjadi satu perusahaan manajemen aset terbesar di Indonesia. Proses ini merupakan bagian dari streamlining yang sedang dilakukan oleh Danantara Indonesia.
Dengan model bisnis yang terintegrasi, perusahaan hasil konsolidasi akan memperluas akses investasi bagi investor ritel maupun institusi, sekaligus menghadirkan solusi investasi yang semakin kompetitif untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Danantara juga mengawal transformasi di Telkom Group. Salah satunya melalui integrasi IndiHome ke dalam layanan seluler Telkomsel adalah manuver efisiensi besar yang menghentikan duplikasi belanja modal (Capex) dalam penarikan kabel serat optik secara tumpang tindih.
Terakhir, Konsolidasi IFG diarahkan pada aturan pengelolaan investasi dan pengembangan produk yang didasarkan pada analisis risiko yang lebih tepat. Hingga Juli 2026, IFG telah merampingkan 12 entitas sebagai bagian dari transformasi untuk memperkuat tata kelola sekaligus mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa depan.
(rah/rah)