MARKET DATA

Siap-Siap Pabrik-Pabrik Gula BUMN Bakal Digabung, Ini Efeknya

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
08 April 2026 20:30
COO Danantara, Dony Oskaria saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Foto: COO Danantara, Dony Oskaria saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah besar tengah disiapkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk mengkonsolidasikan industri gula nasional. Bukan sekadar penggabungan bisnis dari sekitar 61 pabrik, Danantara menargetkan perbaikan menyeluruh, mulai dari kualitas pabrik hingga tata kelola industri, sebagai fondasi transformasi jangka panjang.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengungkapkan, konsolidasi pabrik gula akan rampung dalam waktu dekat dan menjadi titik awal pembenahan besar-besaran.

"Bulan ini akan selesai untuk konsolidasi pabrik gula kita, sehingga akan ada di dalam satu perusahaan. Kemudian baru kita improve kualitasnya, termasuk perbaikan daripada pabriknya. Sehingga nanti productivity-nya menjadi lebih baik lagi," kata Dony saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Ia menyoroti, sebagian besar pabrik gula nasional saat ini sudah berusia tua dan minim pembaruan. Karena itu, konsolidasi bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk modernisasi industri.

"Karena kan pabrik gula kita selama ini sudah lama, tidak pernah mendapatkan pembaruan," ujarnya.

Setelah penggabungan rampung, Danantara akan langsung fokus pada pembenahan kualitas dan tata kelola operasional pabrik gula secara menyeluruh.

"Nah dengan adanya Danantara, setelah kita konsolidasikan, kita lakukan perbaikan tata kualitas pabrik-pabrik kita. Semoga ini memberikan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia," ucap dia.

Transformasi ini dijalankan melalui peleburan dua bisnis gula milik BUMN. Danantara akan menggabungkan pabrik gula milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), dengan target penyelesaian pada semester II/2026.

Dony menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari strategi besar penataan ulang industri, bukan sekadar restrukturisasi administratif.

Adapun dua pemain utama gula pelat merah saat ini, SugarCo di bawah SGN dan pabrik gula milik ID Food. Keduanya akan dilebur agar lebih efisien dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ke depan, SGN akan difokuskan sebagai mesin produksi gula nasional, sementara ID Food bertransformasi menjadi pemain distribusi dan perdagangan.

"Jadi memang ini sengaja kita lakukan sehingga mereka fokus kepada core business-nya masing-masing," jelas Dony.

Langkah konsolidasi ini juga menjadi jawaban atas berbagai persoalan kronis industri gula nasional, mulai dari rembesan gula rafinasi impor ke pasar konsumsi hingga tekanan harga akibat impor yang membuat produk dalam negeri sulit bersaing.

Dengan model baru ini, pemerintah menargetkan terbentuknya satu holding gula raksasa yang mampu mendominasi pasar domestik.

"Konsolidasi daripada PT SGN atau SugarCo dengan ID Food tahun ini akan selesai. Insya Allah dalam semester kedua akan selesai kita lakukan konsolidasi. Dengan demikian kita memiliki satu holding pabrik gula yang menguasai 60% dari total market share yang ada di Indonesia," ungkapnya.

Direktur Utama ID Food Ghimoyo menjelaskan, peran perusahaannya akan difokuskan sebagai offtaker sekaligus distributor gula nasional.

"Jadi kita serahkan pabrik, SGN serahkan produknya untuk kita jual karena kita nanti akan mengarah kepada BUMN perdagangan, sehingga kita bisa menguasai sekitar 47% market share nasional," kata Ghimoyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI.

Sementara itu, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Denaldy Mulino Mauna menambahkan, proses merger kini sudah memasuki tahap akhir.

"Memang rencana penggabungan pabrik gula dengan ID Food itu sudah dalam tahap penyelesaian," ujarnya.

Ia menambahkan, proses tersebut tinggal menunggu finalisasi administrasi dan persetujuan pemegang saham sebelum resmi dieksekusi.

Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, d COO Danantara di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Soal Progres Merger Pelita Air-Garuda Indonesia, Ini Kata Rosan


Most Popular
Features